Minggu, 16 Februari 2014

Alasan Mengapa Nggak Pacaran: Cerita

Diposting oleh Camelia di Minggu, Februari 16, 2014 0 komentar
Aku nggak pernah pacaran dan aku bangga. Mau cerita dikit.

Dulu, aku pertama kali suka cowok jaman SD. Bisa dibilang cinta pertama. Sama-sama seneng, tapi nggak ngungkapin. Cuma berbahasa dengan senyuman, tawa, saling ngejek, ngobrol bareng. Aku merasa menyukainya, dan menurutku saat itu dia menyukaiku. Tapi kemudian aku ketakutan. Ketakutan untuk mencintainya. Takut jika aku semakin suka padanya, aku akan tergiur untuk pacaran. Padahal aku dilarang pacaran sama orang tua *masih SD euy*.

Maka kulancarkan sebuah siasat yang berjudul --> "Pura-pura Membencinya". Maka tiap bertemu dengannya, aku pura2 tak melihat, tiap dia senyum dan menyapaku, aku buang muka. Jika dia melakukan sedikit kesalahan pada adikku *satu SD dgku*, aku akan marah2 kayak kesurupan. Masih aku ingat waktu itu, aku marah2 padanya pas dia lagi duduk2 dengan anak cowok yang lain. Dia memandangku dengan tatapan aneh. Tatapan terganggun dan bingung. Mungkin. Aku juga rada lupa sih.. yang jelas, aksiku itu cukup memperlebar jarak di antara kita.

Waktu itu, jelas aku belum benar2 paham perasaanku sendiri, belum bisa membahasakannya seperti sekarang. Pun tetap tak paham kenapa aku bisa kepikiran untuk melancarkan aksi demikian. Satu hal yang menjadi tujuanku adalah: Tidak boleh pacaran! Titik.

Selanjutnya, waktu SMP. Masa-masa ini, aku idealis sekali. Nggak mau pacaran, nggak mau berhubungan dengan cowok kalau nggak penting, nggak mau sekedar ngobrol geje sama cowok. Waktu itu aku terdoktrinasi  krn kondisi sekolahku. Cukup merugikanku sebenarnya, karena fase itu bisa merubah aku yang super extrovert menjadi lebih pendiam. Lebih seriang diam malah. Aku bisa terbuka hanya pada perempuan. Bisa merekspresi 'gila' juga cm dihadapan perempuan. Jadilah banyak teman laki2ku tak berani jatuh cinta padaku, tak berani bilang suka padaku *aku tahu belakangan*. Ada seseorang yang berani mengungkapkannya dan aku tolak. Padahal kalau mau jujur, aku agak simpatik padanya. Entah mungkin aslinya cm rasa senang krn ditembak ditambah dia baik, atau memang suka aku tak tahu. Tapi rasanya beda dg yg kurasakan waktu SD.

Waktu SMA, sekolahku campuran. Alhasil aku harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Mulai keluar sedikit sisi ekstrovertku. Tapi aku tetap tampak misterius. Pendiam. Hanya bagi sebagian orang aku 'gila'. Kau tahu bagaimana rasanya? Rasanya seperti harus berganti topeng tergantung kondisi. Tergantung tempat. Dan mencari alasana pribadi agar hatiku tak merasa bahwa diriku sedang bersandiwara.

Sekarang aku sudah bisa menempatkan diri dengan lebih baik.
Wait, ceritanya malah jadi panjang. Jadi intinya, dari dulu, aku tetap berpegang teguh untuk nggak pacaran. Dan alasan tiap fase pendewasaanku berbeda2.


SD --> Takut orang tua, dilarang pacaran
SMP --> Belajar agama, doktrinasi, Pacaran itu mendekati Zina
SMA --> Mulai logis, sudah nggak menelan mentah2 doktrin, namun dipahami. Pacaran itu buang waktu, ngabisin tenaga, terkekang dan cuma pelampiasan hawa nafsu. Kalau yg dicari cuma cinta, aku bisa mencari cinta itu dari tempat lain.
Kuliah --> Pacaran itu.. ah, nggak perlu. Repot. Hati dan pikiran nggak tenang. Allah jelas nggak ridha. Di saat2 iman lagi turun, kadang mikir pengen pacaran. Tapi tetep nggak bisa. Rasanya ada hal yang nggak pas kalau pacaran. Dan karena dr dulu sudah memegang prinsip itu, jika tiba2 aku pacaran, akan melanggar prinsip itu, dan aku yakin aku akan menyesal. Sama kayak niat puasa tp batal sebelum maghrib. Yah.. kayak gitu. Udah bukan 'Aku nggak pacaran karena...' tapi 'Aku nggak pengen pacaran'. Udah pake hati memahaminya. dan dengan begini, rasanya lebih kuat aku pegang prinsip ini.

Semua memang berproses. Mungkin kamu bisa lebih cepat berproses dr pda aku. Aku bisa menjalani prinsip ini dengan hati baru setelah umur di atas 17th. Dulu aku memegang prinsip itu hanya karena 'Dilarang'. Dan berprinsip dengan hati itu lebih mudah dilakukan. Lebih enjoy. Nggak perlu pake excuse apapun. Lebih baik mempersiapkan diri untuk hubungan yang lebih berkualitas. Cheers!


Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Sabtu, 15 Februari 2014

Bukan Selalu Tentang Suami Idaman

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Februari 15, 2014 0 komentar
Ini bukan hal baru sebenarnya. Ilmu ini sudah lama kutahu. Tapi entah karena apa rasanya agak terlupa. Itulah mengapa kita harus sering membaca. 
Aku tersadarkan kembali. Bahwa aku sudah terlalu jauh. Terlalu berangan tentang cinta duniawi. Alhamdulillah tak jadi terjebak dengan euforia dan logika. 
Ini disadur dari muslimahtalk.com, bersumber dr Ust. Salim A. Fillah
TENTANG JODOH
Pertama
Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya.
Tahu darimana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No!
Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
Kedua
Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.
Ketiga
Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.
Keempat
Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.
Kelima
Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.
Keenam
Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.
Ketujuh
Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.
Kedelapan
Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat.Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensi satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung.
Kesembilan
Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu?
Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar. Silakan pilih. Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya. Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup. Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.
Kesepuluh
Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?
Tanyakan pada hatimu: Mana diantara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga?
Sekian. Semoga bermanfaat.
Mungkin beginilah cara Allah menegurku. :))
Tak usah terlalu serius memikirkan rasa ini untuknya. Allah lebih tahu siapa yang lebih tepat untukku. Walau aku tetap berharap itu adalah dirinya. :3
Semangat upgrade diri!
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Rabu, 12 Februari 2014

Senang XD

Diposting oleh Camelia di Rabu, Februari 12, 2014 0 komentar
Lagi-lagi nemuin gambar yang cukup nggak penting tapi bikin seneng. Again, I'm Belle! Yeay!

Belle, heroine di Beauty and The Beast.


Cantik, suka baca buku, pinter nyanyi. Dia princess Disney yang paling kusuka <3 <3 <3

Pokoknya suatu saat nanti aku ingin keliling perpustakaan-perpustakaan di manapun. *tekad* Pasti menyenangkan. Apalagi perpustakaan tua gitu. Ah~ butuh waktu main yang banyak.

Dulu aku mencanangkan pengen jalan-jalan keliling museum, sekarang pengen perpustakaan juga. Kalau perpustakaan tua masuk museum juga nggak, ya? Museum buku?

khukhukhu~
See? even the smallest thing could excited me and makes me happy. XD

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Selasa, 11 Februari 2014

One Day One Post

Diposting oleh Camelia di Selasa, Februari 11, 2014 0 komentar
Huaaaaaahhhhhh~ *ngulet*
Apa kabar? Aku lagi pengen semangat! Yey! Sayangnya, akspresiku datas sekali saat ini. ._.
Baiklah, postingan kali ini saya cuma pengen refleksi.

Banner yang kupasang di akun fb-ku

Terhitung sejak Januari akhir, aku menargetkan diriku untuk selalu apdet blogspot minimal sehari sekali. Hmm.. berarti uadah sekitar 2 mingguan sejak target itu aku canangkan. Ternyata mewajibkan diri sendiri untuk melakukan sesuatu, terutama yang disukai itu justru menjadi hal yang berat. Aku punya kebiasaan moody, mood meledak-ledak saat sangat bersemangat. Jadi, pas semangat-semangatnya blogging, aku bisa bikin tulisan sampai 5 postingan sekaligus. Jadi, Posting banyak sekalian, habis itu ditinggal lama. Selama ini belum pernah rutin nulis atau mendisiplinkan diri untuk menulis.

Ini pertama kalinya. Aku memaksa diriku melakukan sesuatu yang kuanggap passion, kuanggap hobi dengan menjadwalkannya. ONE DAY ONE POST. Padahal aku orang yang sangat sulit bekerja sesuai jadwal. Bukan tipe yang terstruktur, kerja secara acak, dan nggak suka hal-hal monoton.

Awal-awal peluncuran progam ini, aku merasa sangat kesulitan. Kesulitan unutk konsisten, kesulitan untuk menuangkan ide menjadi tulisan. Susah memaksa bulir kata-kata ketika kita tidak menginginkannya. Tapi aku semangati diri. Kapan lagi kamu mau berusaha menepati targetmu sendiri? Memang sulit sebenarnya, karena ide itu sesuatu yang liar, sedang jadwal itu seperti mengandangkan hewan liar. Namun, bukankan ini ajang yang menarik untuk melatih dirimu menghadapi deadline? Mempersiapkan diri menjadi penulis sungguhan.

Aku pernah berdiskusi dengan teman-teman, bahwa hal baik yang ingin kita miliki, musti diulang-ulang selama 21 hari. Saat itulah hal baik itu telah menjadi kebiasaan. Kalau nggak salah disebutkan juga di bukunya Felix Siauw "How to Master Your Habits". Intinya, untuk mencapai kebiasaan menulis itu, aku masih harus menempuh satu minggu lagi. Setelah itu, aku yakin, menulis di blog ini akan menjadi hal yang ringan.

Hal baik yang aku dapatkan setelah mencanangkan program untuk diriku sendiri adalah:
1. Aku belajar tertib. Aku belum menjadi orang yang sangat teratur. Itu sulit. Karena aku nggak suka sesuatu yang monoton. Tapi menulis itu sendiri, walaupun terjadwal, ia dinamis. Tulisan yang kau buat tidak akan sama satu sama lain.
2. Mengambangkan tulisan. Ini dampak yang aku rasakan. Semakin sering menulis, semakin lancar otak mengungkapkan ide yang diinginkan, semakin mengalir kata-kata yang diutuliskan. Menulis menjadi semakin nyaman. Lama kelamaan, aku semakin sadar dengan gaya kepenulisanku. Dan setelah membuat postingan, aku nggak lagi merasa, "Ah, tulisaku terlalu random." "Wow, nggak fokus nih, tulisanku." Jadi dari segi berlatih, aku sudah meningkat.
3. Kepuasan pribadi. Kau yang pernah menargetkan sesuatu pada dirimu sendiri, dan bisa menepatinya, pasti pernah merasakan kepuasan yang sama denganku. Walaupun untuk hal kecil yang mungkin dianggap nggak penting untuk orang lain.

Semangat! Semoga tetap istoqamah menulis dan menargetkan. Program ini sendiri tak pernah kutargetkan sampai berapa lama. Hanya paling tidak sampai 21 hari. Aku sih pengennya sampai setahun ini tetap berjalan. Kecuali sangat terpaksa atau menurutku cukup, baru aku akan berhenti. :))

Tapi bloggingnya tetep jalan teruuus~ >0<
Semangat belajar! :D

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Senin, 10 Februari 2014

[Semacam Review Buku] Calvin and Hobbes

Diposting oleh Camelia di Senin, Februari 10, 2014 0 komentar

Buku ini berisi komik strip tentang keseharian anak bernama Calvin dan boneka harimaunya, Hobbes. Dari buku-buku bertema anak yang aku baca, buku ini paling mengasikkan dan lucu untuk diikuti. Tentu saja sasaran buku ini bukan anak-anak, menurut aku. Karena anak-anak tidak akan begitu paham bagaimana jalan pikir mereka sendiri. 

Fakta bahwa aku senyum-senyum sendiri saat membaca buku ini adalah bukti bahwa ada rasa yang terbangkitkan dari masa lalu. Pikiran-pikiran nostalgia masa kanak-kanak, dan dugaan, "Ternyata, jalan pikir anak-anak seperti ini, bisa jadi dulu akupun berpikir begitu." 

Calvin diceritakan sebagai anak laki-laki yang sangat imajinatif. Dia membayangkan Hobbes, bukanlah boneka, namun harimau sungguhan yang hidup. Mereka berteman baik. Terdapat kepolosan dalam pola pikir Calvin. Tentu saja, karena dia masih anak-anak. Imajinasi yang lain adalah membayangkan guru-guru sebagai monster, percaya bahwa bisa terbang, dan merasa menjadi serigala.

Kisah lain yang lucu adalah ketika ada anak perempuan baru di kelasnya, ia menunjukkan ketertarikannya pada anak itu dengan bersikap seolah-olah membenci. Perasaan yang dulu pernah aku lalui juga. Tidak mau ketahuan suka teman. 

Buku ini sarat pskologi anak, yang unik dan menarik untuk diikuti. Mungkin karena kita sudah terlalu jauh dari masa kanak-kanak, ia menjadi nostalgia yang berharga, sekaligus menambah pengetahuan. 

Aku membaca buku ini berulang-ulang tanpa rasa bosan. Seperti tak pernah habis walau dibaca terus menerus. Aku sepakat dengan komentator buku ini, buku ini adalah buku yang paling merepresentasikan masa kanak-kanak dengan baik. Pokoknya asik bangeeet! >0< 

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

I'm Belle :3

Diposting oleh Camelia di Senin, Februari 10, 2014 0 komentar
I’m Belle! Yay!
maybe it’s not something important, but it’s really exciting me. Belle is my fav Disney princess. I love the way she looks, i love her hobby which is same with me: READ BOOKS
When i was child, i ever imagined my self for being Belle and borrow many books from the Library she usually goes to. Then walk home while read book and sing.
Awww.. >.<
I’ll still love her. And love books ofcourse. :3
Indeed, I’m Belle.

If you want to try to take this quiz, go here

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Aku Rindu Jalan Kaki

Diposting oleh Camelia di Senin, Februari 10, 2014 0 komentar
Aku pengen jalan kaki. Aku rindu jalan kaki. Semenjak punya motor, aku jadi jarang jalan kaki. Dulu juga jarang sih, tapi naik angkot atau bus. Sekarang kemana-mana pakai motor. Jalan kaki jarang banget kecuali lagi pengen.

Setiap naik motor, pas lihat trotoar, lihat pengemis, lihat penjual lesehan, lihat tukang parkir, rasanya cemburu. Pengen melakukan banyak hal, hingga membuatku berpikir, "Seandainya aku sedang jalan kaki."
Ada semacam romantisme dari jalan kaki, yang aku rindukan. Tapi aku tahu, aku sulit untuk benar-benar lepas dari motor. Terutama saat harus mengajar privat di tempat yang jauh. Bukan tak bisa, hanya tak memungkinkan. Karena seringkali waktu untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain hanya setengah jam, padahal cukup jauh. Maka dari itu aku tetap butuh motor.

Aku tetap rindu jalan kaki. Menyapa orang yang berpapasan.
Di lampu merah, ketika ada anak kecil mengemis, rasanya aku ingin ngobrol dengannya, lalu bertanya, "Kenapa kamu mengemis?" atau "Apa kamu masih sekolah?"
Atau sekedar mengobrol dengan nenek-nenek penjual koran yang sakit kakinya di dekat Pasar Demangan. Pengen berteman dengan adik penjual koran di perempatan Gramedia, dengan penari jalanan di perempatan Ring road Monjali, dengan bapak tukang parkir Rumah Sakit Sardjito yang punya dua anak.
Aku rindu.

Semua hal itu akan sulit aku lakukan dengan aku naik motor. Karena seringkali tak ada waktu untuk turun. Semisal ada waktupun, bagaimana caranya turun di lampu merah? Memarkir motor di pinggir jalan untuk ngobrol dengan pedagang topi dekat MM UGM juga rasanya ra ilok. Semacam kurang pantas. Malu membawa motor yang sering menjadi simbol orang berpunya.

Satu hal lagi yang akan lebih asik dilakukan dengan berjalan kaki adalah mengitari toko buku bekas. Bukan hanya turun dari motor dan membeli, tapi aku ingin berkenalan dengan penjualnya, mengenal jenis-jenis buku yang ada. Pasti menyenangkan.

Suatu saat, pasti. Jika Allah mengizinkanku. Insyaallah..
Tak ingin terlalu bergantung dengan motor. Suatu saat nanti. Atau mungkin besok. Kapan pun. Saat aku merasa siap. Siap untuk tak terlalu bergantung dengan kendaraan bermesin. Siap untuk berjalan kaki.

Tenang saja, aku masih akan tetap rindu jalan kaki, jadi ketika tiba saatnya melepas rindu tersebut, aku akan sangat berbahagia. :))

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Minggu, 09 Februari 2014

Setiap Anak Wajib Bahagia

Diposting oleh Camelia di Minggu, Februari 09, 2014 0 komentar
Selalu ada semacam keajaiban saat melihat anak kecil. Sebuah kepolosan yang terpancar. Selalu ada yang berbeda, yang membuatku tertarik untuk mengamati mereka. Bayi dan anak kecil, nantinya akan menjadi seseorang yang dewasa. Sebagian dari mereka menjadi orang baik-baik, sebagian dari mereka menjadi orang yang dianggap buruk oleh masyarakat.

Tak pelak, saat melihat seorang narapidana, pengedar narkoba, pencuri, koruptor, psikopat, pembunuh, pikirku berkata, Masa kecil seperti apa yang mereka lalui? Apa yang tidak mereka dapat sehingga mereka memilih jalan yang salah? Atau sesungguhnya kesalahan itu sendiri bukanlah jalan yang salah untuk mereka, melainkan hanya pembelajaran agar mereka tahu mana yang benar? Jika sudah begini, rasanya semua terlihat abu-abu, tak ada yang sungguh benar dan tak ada yang benar-benar salah.

Aku sungguh percaya, seorang anak kecil wajib hidup bahagia. Dengan masa kecil yang indah, dia akan siap menghadapi kehidupan. Indah, bukan berati harus selalu berkecukupan, terpenuhi semua keinginannya. Indah berarti dia punya kenangan yang sangat dihargainya, dikenang, dibingkai dengan bingkai emas, dalam hatinya. Kenangan itu yang nantinya akan menjadi pegangan ketika ia mendapat masalah. Membuatnya merasa: aku pernah bahagia, dan itu indah sekali rasanya. Jadi, aku akan tetap bahagia, jika masalah datang, aku akan menyelesaikannya, sehingga aku bisa bahagia kembali. Aku bukan pakar anak, bukan ahli psikologi, aku hanya mengungkapkan apa yang aku percayai. Seseorang yang pernah bahagia, akan merasa wajar jika nanti tertimpa masalah, Aku pernah merasa bahagia, jadi tak masalah jika sekarang Allah mencobaku, waktunya aku untuk diuji.

Mungkin benar aku sok idealis, terlalu naif, karena nyatanya kita tak akan benar-benar tahu kehidupan seseorang. Tak benar-benar paham perasaan seseorang. Tapi yang jelas perlu digarisbawahi adalah, kebagiaan yang saya maksud SAMA SEKALI TIDAK BERKAITAN DENGAN MATERI. Namun lebih pada kehangatan keluarga, pendidikan dan pengawasan yang layak dari orang tua, pembelajaran moral dan agama, dan kesadaran untuk qana'ah.

Semua berawal dari keluarga. Semua anak berhak akan cinta dan kehangatan. Itu kebahagiaan terbesar bagi mereka. Bukan uang, mobil-mobilan, atau barbie.

Semoga semakin banyak keluarga yang hangat dan penuh cinta di dunia, sehingga orang jahat dan pembuat onar bisa banyak berkurang. Kita masih harus banyak belajar.

Semangaaat! >0<

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Sabtu, 08 Februari 2014

Jangan Lari!

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Februari 08, 2014 0 komentar
Aku nggak ngerti. Kenapa orang melarikan diri dari polisi ketika ada razia? //ceritanya tadi lihat tivi sekilas dan dan ada mbak-mbak yang melarikan diri dari razia/ Padahal mbaknya pake helm. Ah, mungkin tidak bawa STNK? atau SIM? Atau salah jalur?

...................................

Jadi bukankah sesungguhnya kita cenderung lari dari masalah ketika merasa bersalah?
Entahlah.

Untuk kasus razia tadi, entah kenapa rasanya itu tidak benar. Melarikan diri, bahkan ketika polisi sudah mendekati dan menarik motor si mbak, terasa tidak benar. Bukankah itu berarti menghina? Menghina pak Polisi? Bahwa sesungguhnya memang si mbak itu telah melakukan kesalahan dan kabur. Tidakkah dia sama saja dengan pelanggar-pelanggar hukum yang lain?

Aku tak bilang kalau aku tak pernah melanggar. Aku kadang tidak bawa helm untuk temanku saat harus boncengan, sehingga harus lewat jalan tikus. Itu pun jika terpaksa. Jika memungkinkan, maka aku akan pulang mengambil helm. Tapi kabur dengan jelas di depan polisi, bukankah itu keterlaluan. Jika tidak salah, kenapa kabur? Jika memang salah, kenapa tidak berani tanggung jawab? Apa itu tidak beda dengan koruptor yang kabur dari kejaran KPK? Okelah, mungkin berlebihan. Tapi aku nggak menemukan analogi lain.

Apa katamu? Balas dendam pada polisi? Jika kau kecewa pada sebagian polisi, apakah itu berarti menyalahkan semua polisi? Apakah itu berarti kabur ketika melanggar peraturan lalu lintas?
Maaf, aku tak bisa menangkap logikanya. Bagaimana jika sang polisi sebenarnya polisi yang jujur? Polisi yang lelah karena disalahkan terus menerus atas kesalahan rekannya? Itulah sebabnya kita tak bisa mengeneralisasi segala hal. Bersikaplah bijak! Aku juga belum ahli tentu saja. Jadi, mari kita berusaha bersama-sama.

Jika kecewa dengan polisi nakal, jangan terus balas dendam dengan ikut-ikutan jadi nakal. Kalau dirimu tidak teratur, bukankah itu ladang empuk bagi polisi-polisi nakal? Itu artinya kau ikut mendukung.
Cobalah patuhi aturan, karena sesungguhnya itu demi kebaikan kita sendiri, bukan?

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Jumat, 07 Februari 2014

7 Steps to Achieve a Quality Salat

Diposting oleh Camelia di Jumat, Februari 07, 2014 0 komentar
Alohaaaa~ Semangat Jumat!
Jumat itu hari penuh barokah, ditambah hari ini hujan. Adem.. :3

Nah, berhubung saya lagi males, jadi saya copy-kan atrikel dari:
http://thepiercingstar.tumblr.com/
Dan karena saya sedang super males, jd tetep pake bahasa Inggris aja, ya.. Nanti kalau udah sempat (baca: nggak males), aku buat yang bahasa Indonesianya. Gomennasai~ *bow*

1. Pray on time

First things first. When we give God priority, He gives us His priority. Look forward to the time when it’s prayer and then drop whatever you are doing to go and pray. Make this especially true for yourself if you’re traveling.

2. Slow down

Slow down in each position. This would be especially important if you’re naturally a quick reader and your salat normally finishes quickly. Slowing down can mean reciting the Quran a bit more slowly or just holding your position i.e. in sujood for a few seconds more than normal after you have finished reciting. Inshallah, this will allow you to relax and get that piece of mind in a way that is pleasing to Allah SWT as opposed to perhaps rushing the salat.

Additionally, you will find slowing down allows the Salat to run smoothly in a beautiful manner, InsyaAllah =)

3. Understand what you’re reciting

You don’t have to be a scholar to understand what you’re reciting. We should make the effort to understand at least some of what is read during salat.

For example, Surah al-Fatihah is something we all read during salat but do we know what, “Iyyaka na’a budu wa-iyyaka nasta aeen” means? “You {Alone} we worship, and You {Alone} we ask for help [for each and everything”. This Surah is also fairly short and therefore not difficult to remember.

Once we understand what we are reading during salah even if it’s not all of what is read, then we will find that sweetness you obtain from salat through understanding what we are saying. This can only allow us to become closer to Him.

Recite different surahs. If it’s Surah Ahad that you recite regularly. There are other Surahs that you’ve memorised but never recite in Salat. Recite those and reflect on it’s meanings.

4. Remember Shaitaan’s tricks!

This is our enemy, Shaitaan. We are blessed by Allah SWT that we are in a position to be performing salah but this doesn’t stop Shaitaan in our salah who is ever busy trying to distract us from our worship.

It is said in a hadith that shaitaan called ‘Khinzab’ sits on your shoulder in salah. As soon as you start the salah, it whispers and does everything to disturb you. That’s why if you find yourself running through your shopping list or what you have to do for the rest of the day then know that this is the shaitaan working its magic.

‘Uthan b. Abu al-‘As reported that he came to the Allah’s Messenger (PBUH) and said:“Allah’s Messenger, the Satan intervenes between me and my prayer and my reciting of the Qur’an and he confounds me”. Thereupon, Allah’s Messenger (PBUH) said, “That is the doing of the Satan who is known as Khinzab and when you perceive its effect, seek refuge with Allah from it and spit three times to your left”. [Muslim].

If we understand the different tricks of the shaitaan, we can avoid falling into its traps and letting our minds wander in salat.

5. Stay focused

Isolating ourselves and going in a quiet place can and should be applied to our salat. Anything that allows us to focus, concentrate and block out the world during salah can only benefit us.

Many people find sitting in wait for the salat, doing dhikr for a few minutes is very useful. This will InshaAllah allow you to forget about the world and the various things you have to do for a few minutes. Therefore, when the salat begins, you will be fully focused.

6. Increase the significance/importance of THIS salat

Try to think of the salat you are about to perform as the one in which Allah SWT will question you about on the Day of Judgement. This should help us to perform the salat with the devotion, concentration and care we are looking for.

Additionally, consider that this salat may be your last. I’m sure if we were told this would be our last salat, we would perform it with extreme devotion, avoid anything and anyone that distracted us and make it the longest salah possible. This is something to reflect on.

7. Continuously make dua

This is a vital point to consider for everyone. Dua should constantly be made to Allah SWT as without His help & His willing, we will not be able to perform the salat as required. We should continuously ask Him to send blessings on us and if for example we are struggling with remembering the Quran, or concentrating then we should continuously seek help from Allah SWT.

Finally, dua should be made thanking Allah SWT for all His bounties and giving us the blessings to be able to perform salat and pray to him despite our many faults.

A dua that should, therefore, be read constantly after salat is, ‘Allahumma innee ala zikrika wa shukrika wa husni ibaadatik’ (O’Allah, help me remember You, to be grateful to You, and to worship You in an excellent manner).

I sincerely hope this will help us all gain Kushu’ in our salat InsyaAllah. Jazakallah khair!
[this is extracted from productivemuslim.com, plus i’ve added a few more important points =)]

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
 

Bunga Rumput Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei