Alohaaaa~
Setelah memenuhi target 21 hari menulis postingan tiap hari, aku jadi jarang nulis lagi. Terakhir cerpen Sembilu seminggu yang lalu. Okeh, akan aku mulai lagi. :)
Ada banyak masukan aku musti nulis apa. Ada yang usul pengelaman ngerjain skripsi, ada yang usul bikin resensi film, atau cerita jalan-jalan.
Pengen sih menuliskan semuanya, tapi perjalanan skripsiku sedang agak suram, dan aku nggak pingin menebar kesuraman *kecuali jk nanti berubah pikiran*. Jalan-jalan, aku lagi nggak melakukannya cukup lama. Cuma jalan ke toko buku ata karaokean doang. Oke, mungkin aku bakal membahas film aja ya..
Kalian punya film favorit? Pasti punya. Mungin sebagian cuma sekedar suka, sebagian lagi memang 'memfavoritkan' dan bisa jadi inspirasi. Aku juga punya. Sedikit berbagi aja sebelum bikin ulasan lebih lanjut di postingan lain.
Film keren yang jadi favoritku, biasanya heartbreaking dan heartwarming di waktu yang bersamaan, antara lain:
1. Hugo --> ini film masih tergolong film masa kini, tapi berhasil memikatku dengan sangat. Alhasil, dia jadi film terfavoritku saat ini. Setelah nonton film ini, rasanya perasaanku masih ketinggalan di dalam adegan2 film tersebut. Film yang membuatku sadar, romantis tidak selalu tentang percintaan sejoli. Karena cinta itu ada di mana-mana. Manis, romantis.
2. Unconditional --> Film manis banget dan romantis. Film yang bisa memberimu courage untuk percaya pada cinta. Percaya bahwa ada cukup cinta di dunia ini untuk diberikan pada semua orang. Film ini membuatku teringat pada Ibu Tetsuko Kuroyanagi, yang pernah bilang bahwa semua anak butuh cinta. Bahkan ketika mereka kehabisan air mata untuk menangis. Semua orang berhak dicintai.
3. Stuck In Love --> Hangat, sedih, bahagia. Film yang cantik tentang Family and Love. Mungkin karena sesuai dengan kondisiku sekarang, film ini bikin teriris, tersindir, dan hangat dalam waktu bersamaan. Banyak yang bisa kupelajari dalam film ini. Bahwa kita pun bisa saja tersesat dalam hidup. Semoga siapapun pangeranku kelak, adalah yang bersedia menantiku, mengusahakanku, dan memelukku kembali, bahkan setelah aku tersesat. Tersesat dalam apapun.
4. Mary and Max --> Cerita tentan persahabatan seorang anak dan lelaki dewasa pengidap Sindrom Asperger. Menarik karena merupakan film animasi pertama yang mengangkat kelainan psikologi. Setidaknya itu yang aku tahu. Sedih dan hangat. Rasanya pengen meluk Max pas endingnya. Dia bilang, "You're my best friend. You're my only friend."
5. Coraline --> film animasi yang aku tonton sampai berkali-kali. Sampai aku lupa berapa kali. Film ini memadukan horor, dongeng, dan dunia anak. Creepy but simple. Tipikal cerita Neil Gaimann. Always be may fav movie. Sampai aku inget dialog2nya dan latihan dubbing pake film ini.
Selain kelima film itu, masih banyak film-film keren yang aku suka. Sukaaaa banget! XD seperti Beautiful Mind, filmnya Helen Keller, Tare Zamen Par, dll.
Film ttg anak-anak, psikologi, horor, dongeng, dan semua romansa selalu dapat memikat hatiku. :3
Selamat nonton! Insyaallah aku bikin ulasan lebih dalem di postingan lain ttg film2 tersebut. Makasiih~ >0<
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Rabu, 26 Februari 2014
Sabtu, 22 Februari 2014
Sembilu
Alisra tak bisa berhenti berair mata. Semakin ia sadar, semakin deras air itu mengalir. Matanya semakin memerah.
"Aku gemetaran. Aku kedinginan." Ucapnya di telepon. Dia bertelepon dengan lautan. Dengan suara di seberang lautan. Hanya ada sunyi yang menjawabnya. Yang terdengar hanya isak tangis. Isak tangis miliknya sendiri.
"Maukah kau mendengarku menangis?" Tanyanya lagi. Tangisnya semakin kencang.
"....."
"....."
“Hey, maukah kau dengar aku menangis?” Isak Alisra semakin menjadi.
"Iya, aku mendengarmu." Jawab sebuah suara di seberang lautan.
Lalu sunyi kembali.
"Aku tak pernah tahu akan sesakit ini. Aku tak pernah tahu. Selama ini sungguh yang aku lakukan sia-sia. Rasanya aku begitu dungu. Aku tak pernah menangis seperti ini. Aku telah alpa. Aku menggantungkan harapanku pada manusia." Suara Alisra bergetar.
"Tidak ada yang sia-sia, Alisra. Semua adalah bahan belajar. Ingatkah kau saat kau berkata padaku bahwa kau ingin merasakannya? Merasakan jatuh dan patah?" Suara di seberang lautan terdengar jumawa.
Isak Alisra semakin deras. Bahunya berguncang. Kuku jarinya nampak pucat. Ia kembali menggigil.
“Kau benar. Aku tak seharusnya bermain-main dengan kataku. Bukankah kata itu doa?” Alisra mendakwa dirinya.
“.....”
“Aku hanya tak tahu akan sebegini sakit. Rasanya sakit.” Alisra terbata. Sesekali ia mengusap matanya.
"Alisra, kau hanya sedang terkejut. Kau belum pernah merasakannya. Itu wajar." Jawab Suara di seberang lautan sambil tersenyum. Suara senyum.
Alisra berkata, "Aku salah. Motivasiku salah. Seharusnya aku tak melakukan ini pada diriku. Aku malu." Lalu sambungnya, "Seharusnya aku tahu siapa yang seharusnya aku cinta. Aku merasa bodoh. Betapa menyedihkan aku menangis karena roman picisan."
“Kau tahu?” Kata Alisra kemudian. “Aku merasa seperti pemain drama. Hahaha...pemain drama roman sedih. Pun setelah ini, aku akan banyak bersandiwara.” Sambungnya sambil tertawa. Ironi.
“Hanya saja, sandiwara yang akan kumainkan nanti akan menyakitkan sekali.” Roman wajahnya kembali muram.
"Alisra, kapan kau akan sadar bahwa pelajaran inipun bukti cintaNya? Mungkin Ia menunjukkan padamu bahwa yang kau cinta itu bukan jodoh yang tepat. Bukan seseorang yang diinginkanNya menjadi jodohmu." Suara di seberang lautan terdengar tegas, menyejukkan.
"Seperti kataku, kau hanya laiknya anak kecil yang terjatuh. Ia akan menangis pada awalnya, karena sebelumnya ia tak pernah merasakan sakit itu. Namun, ia belajar. Jika nanti ia terjatuh kembali, ia tak akan menciptakan tangis yang sama. Ia belajar. Belajar untuk sakit. Begitulah juga kau. Kau hanya terkejut." Lama-lama seperti mantera, suara di seberang lautan terus berdesir.
"Tapi sakit. Rasanya dingin." Tangis Alisra mereda, diganti isak putus-putus. Badannya bergetar.
"Tentu saja sakit. Kau sudah jatuh, patah pula."
“.....”
Suara di seberang lautan kembali bertanya,
"Namun apakah jatuhnya seorang anak kecil membuatnya takut berjalan?"
Alisra terhenyak. Ia menyadari jawaban 'tidak' atas pertanyaan itu. Suara di seberang lautan sadar bahwa Alisra telah paham.
“Alisra... ” Suara di seberang lautan mengurungkan katanya.
“.....”
Alisra berpikir. Suara di seberang lautan memberinya waktu.
Gesekan daun beringin terdengar gemerisik. Angin bertiup lebih kencang dari kemarin. Suara jangkrik semakin menjadi. Agaknya merekapun tak tahan dengan sunyi. Mereka menunggu sunyi menjadi bunyi.
Alisra bergeming. Dihelanya napas dalam-dalam.
“Kau kembali menghela, Alisra. Tidakkah kau hitung berapa banyak kau menghela?” Suara di seberang lautan memecah sunyi.
“Kau menghitungnya?” Sunyi Alisra terbelah.
“Tentu saja tidak. Kau tak memberiku imbalan setimpal untuk itu.” Suara di seberang lautan bermaksud mencandai.
“Baiklah, sepertinya kau sedang lupa cara bercanda saat ini. Aku tak memaksa.” Suara di seberang lautan berkata cepat.
“Tapi aku yakin kau akan baik-baik saja.” Suara di seberang lautan menegaskan.
“.....”
Alisra masih berpikir. Menafsirkan rasa. Suara di seberang lautan kembali memberinya waktu.
“Aku tak tahu bagaimana harus bersikap setelah ini. Membayangkan diriku menatap mereka bersanding, sepertinya akan lebih sakit.” Alisra sedikit meratap.
Dengan sabar Suara di seberang lautan berkata, “Alisra, dengarkan aku. Kau akan baik-baik saja. Jadi, teruslah engkau berjalan. Namun janganlah berjalan terlalu cepat. Dengan begitu kau tak akan terjatuh dengan cara yang sama. Tak selamanya jatuh itu sakit. Maka berdoalah banyak-banyak agar kau bisa merasakan jatuh tanpa harus merasa sakit." Lagi-lagi, suara di seberang lautan terdengar bersenyum.
Suara hangat terasa menyelimuti. Air mata Alisra sudah hilang sama sekali. Ia hanya masih menghela napas. Menenangkan hati.
"Akupun paham, kau telah sadar, Alisra. Sehingga kau tahu bagaimana harus menjalani hidup setelah ini. Aku layangkan doa untukmu banyak-banyak. Agar ketika kau diberi jatuh lagi olehNya, kau telah siap, kau tak akan patah. Kau jatuh tanpa sakit. Hingga ketika kau berdiri, aku masih bisa melihat senyummu." Suara di seberang lautan memandang arif.
"Hingga tiba seseorang yang Tuhan utuskan untuk menjadi imammu, menjadi Ia Yang Meraih Tanganmu ketika kau jatuh tanpa sakit. Ia yang merapihkan rambut di balik jilbabmu.” Suara di seberang lautan memberi jarak pada katanya.
“Aku ingin kau mengamini doaku, Alisra." Suara di seberang lautan menggema.
Lalu, satu helaan napas, dan Alisra tersenyum. Tersenyum untuk segala jatuhnya, tersenyum untuk segala patahnya, tersenyum atas doa untuknya, dan tersenyum karena ia masih memiliki Suara di seberang lautan yang sudi merengkuhnya. Ia mengucap terimakasih dalam hati.
Telepon ditutupnya.
Suara jangkrik di peraduan menemani terkembangnya senyum Alisra.
Hatinya masih serupa lukisan yang terkoyak. Namun ia tetap tersenyum.
Senyum kelegaan.
Senyum Alisra semakin lebar.
======================================================
Ia meletakkan gagang telepon. Tampak senyum tertahan di bibirnya. Matanya, tak hanya memancarkan kelegaan, namun juga penyesalan. Menyesal karena merasa bahagia. Merasa bahwa bahagianya tidak seharusnya ia tampakkan.
Pantaskah aku merasa senang ketika ia begitu berduka? Ia bertanya pada dirinya.
Namun sungguh, ia tak dapat menyimpannya. Terbungkus rasa bersalah karena bahagia di atas derita orang lain, ia bersuka cita. Maka hanya matanya yang tersenyum, bibirnya tidak. Hatinya masih merasa sungkan.
Ia mencatat sesuatu pada buku kusam yang selalu dibawanya. Dengan mata tetap tersenyum, ia menuliskan,
“Ternyata Tuhan masih memberiku kesempatan, lewat patah hatimu, lewat air matamu. Hingga aku bisa memelukmu dengan suaraku. Maafkan aku karena bahagia atas sedihmu, Alisra. Tuhan yang memberikan petunjuk padaku lewat dering telepon darimu, di pagi buta. Tuhan memintaku merengkuhmu. Memelukmu. Izinkan aku mencobanya. Membantumu jatuh tanpa harus patah. Terimakasih atas sedihmu.”
Ia menutup buku itu dengan senyuman. Kini tak hanya dalam matanya, namun juga bibirnya. Senyum dari sebuah bibir, sepasang mata, dan satu hati di seberang lautan.
Dan angin pun berdesir.
Yogyakarta, 22 Februari 2014
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Ternyata Saya Masih Ekstrovert
Baru saja aku buat postingan ttg diriku sebagai Ambivert, ternyata itu tidak sepenuhnya benar! XD
Aku sebutkan di postingan sebelumnya, bahwa dlm tes singkat, aku Ambivert. Namun setelah ambil tes yang lebih valid *maybe*, jawaban yang aku dapat adalah:
"You’re an Extrovert with some Ambivert functions."
Yeeey! Keinginanku terkabul, ternyata aku memang ekstrovert, pantas aku kurang puas dg jawaban ambivert. Hanya saja, aku punya kecenderungan ambivert, :3
Aku ambil test di sini: http://lonerwolf.com/introvert-or-extrovert-test/
Hasilnya:
You have reached 71 of 100 points, (71%)
0 – 20 points : You’re predominantly an Introvert.20 – 40 points : You’re an Introvert with some Ambivert functions.40 – 60 points : You’re an Ambivert.60 – 80 points : You’re an Extrovert with some Ambivert functions.80 – 100 points : You’re predominantly an Extrovert.
Jadi, bisa dibilang, sy ini:
Ambivert dg dominan ekstrovert atau spt yg dibilang td, ekstovert dg tanda2 ambivert. :D
Alhamdulillah~
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Categories
aku
Jumat, 21 Februari 2014
Are You an Extrovert or Introvert? I'm Both of Them!
Beberapa hari ini aku dibingungkan oleh siapakah diriku. Ambil tes sana-sini, 3 kali dapet Ekstrovert dan 1 kali dapet Introvert.
Mencocokkan diri, apakah aku benar introvert seperti yang kusangka selama ini? Ataukah sebenarnya aku introvert yang menolak jd ekstrovert? Berkali-kali mencoba menyocokkan dengan ciri keduanya, aku tambah bingung. Hingga malam ini jelaslah semua #eaa.. setelah diskusi sampe pagi sma temen kos sambil searching, satu hal yang kudapat.
I'M AN AMBIVERT!
Do you know what ambivert is? Check this out! ;)
You're an ambivert. That means you're neither strongly introverted nor strongly extraverted. Recent research by Adam Grant of the University of Pennsylvania's Wharton School of Management has found that ambiverts make the best salespeople. Ambiverts tend to be adept at the quality of attunement. They know when to push and when to hold back, when to speak up and when to shut up. So don't fall for the myth of the extraverted sales star. Just keep being your ambiverted self.
*ini setelah aku ambil test di sini
Kebingunganku selama ini terjawab. I'm neither only extrovert or introvert, i'm both ot them. In the middle.
Dijelasin juga bahwa tak ada org yang hanya introvert atau ekstrovert aja. Kalo kata Carl J. Jung kya gini:
There is no such thing as a pure introvert or extrovert. Such a person would be in the lunatic asylum. --Carl G. Jung
yang ada hanya orang yang dominan ekstrovert atau introvert. Hanya jumlah persen yang memisahkan kita~ #ciyeehh
Mungkin ini kelebihan yang Allah berikan. Membuatku lebih adaptif. Bisa memilih kapan aku harus menggunakan kedua senjataku, ekstrovertness dan introvertness. Senjata yang akan luar biasa berguna saat bisa menggunakannya dengan tepat.
Mungkin ini kelebihan yang Allah berikan. Membuatku lebih adaptif. Bisa memilih kapan aku harus menggunakan kedua senjataku, ekstrovertness dan introvertness. Senjata yang akan luar biasa berguna saat bisa menggunakannya dengan tepat.
Sebenernya aku pengen dominan ekstrovert aja, biar jelas. Tapi aku butuh jd introvert. :3 In the middle is not that bad thou~ Tapi kemungkinan sisi ekstrovertku lebih tinggi dr introvert. Hanya saja masih dalam taraf ambivert. Oke, saya sudah cukup puas dengan hasil ini.
Nah, apa bedanya Ambivert dengan Ekstrovert dan Introvert?
Seorang Ambivert, sangat menikmati kumpul bareng orang2, pesta, ketemu komunitas, kenalan baru. They do love crowd, but after long time it will drain them. Also, they do love alone, but not too long. Jadi intinya, seorang ambivert musti nge-mix antara berkumpul dg orang2 dan menyendiri.
Saat lagi bosan, aku akan berkumpul dengan teman2 yg kusuka, hangout, atau hanya jalan2 sendiri beli buku. Atau keliling rental komik sambil numpang baca. Bisa juga aku hanya di kamar baca buku dan tiduran. Mungkin buatku, yang paling asik adalah 'menyendiri berjamaah', jadi berangkat bareng, trus menikmati kesendirian masing2, abis itu pulang bareng lagi. #apaaan? contoh pas ke perpus, :3
Nah, katanya orang ambivert ini paling bagus untuk ngurusin 'sales'. Karena dia lebih tahu kapan musti koar2 macam ekstrovert, dan kapan musti mendem kayak org introvert. :3
Mengenal diri sendiri itu such a wonderful feeling, apalagi setelah penasaran lama dan terkatung-katung. Ok, Semangat for what ever you are! XD
Ps. Ralat: Ternyata, aku masih introvert. >0< (baca lebih lengkapnya di sini --> http://bungarumputku.blogspot.com/2014/02/ternyata-saya-masih-ekstrovert.html)
sumber belajarku:
http://www.danpink.com/assessment/
http://www.fastcompany.com/3016031/leadership-now/are-you-an-introvert-or-an-extrovert-and-what-it-means-for-your-career
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Categories
aku,
ambivert,
ekstrovert,
ilmu,
introvert,
tentang aku,
ternyata
Senin, 17 Februari 2014
Banyak Alasan Kenapa Menolak Pacaran
Wuehehehehe... abis bikin postingan ini, terus nemu gambar lucu dari tumbl: Akhwataluswah
Intinya, alasan nggak pacaran bisa macem2.
Tentu tergantung kepahaman hatimu akan pilihanmu sendiri. Jadi, apa alasanmu nggak pacaran?
Silahkan dinikmati~




Huwehehehehe.... XD
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Intinya, alasan nggak pacaran bisa macem2.
Tentu tergantung kepahaman hatimu akan pilihanmu sendiri. Jadi, apa alasanmu nggak pacaran?
Silahkan dinikmati~




Huwehehehehe.... XD
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Minggu, 16 Februari 2014
Alasan Mengapa Nggak Pacaran: Cerita
Aku nggak pernah pacaran dan aku bangga. Mau cerita dikit.
Dulu, aku pertama kali suka cowok jaman SD. Bisa dibilang cinta pertama. Sama-sama seneng, tapi nggak ngungkapin. Cuma berbahasa dengan senyuman, tawa, saling ngejek, ngobrol bareng. Aku merasa menyukainya, dan menurutku saat itu dia menyukaiku. Tapi kemudian aku ketakutan. Ketakutan untuk mencintainya. Takut jika aku semakin suka padanya, aku akan tergiur untuk pacaran. Padahal aku dilarang pacaran sama orang tua *masih SD euy*.
Maka kulancarkan sebuah siasat yang berjudul --> "Pura-pura Membencinya". Maka tiap bertemu dengannya, aku pura2 tak melihat, tiap dia senyum dan menyapaku, aku buang muka. Jika dia melakukan sedikit kesalahan pada adikku *satu SD dgku*, aku akan marah2 kayak kesurupan. Masih aku ingat waktu itu, aku marah2 padanya pas dia lagi duduk2 dengan anak cowok yang lain. Dia memandangku dengan tatapan aneh. Tatapan terganggun dan bingung. Mungkin. Aku juga rada lupa sih.. yang jelas, aksiku itu cukup memperlebar jarak di antara kita.
Waktu itu, jelas aku belum benar2 paham perasaanku sendiri, belum bisa membahasakannya seperti sekarang. Pun tetap tak paham kenapa aku bisa kepikiran untuk melancarkan aksi demikian. Satu hal yang menjadi tujuanku adalah: Tidak boleh pacaran! Titik.
Selanjutnya, waktu SMP. Masa-masa ini, aku idealis sekali. Nggak mau pacaran, nggak mau berhubungan dengan cowok kalau nggak penting, nggak mau sekedar ngobrol geje sama cowok. Waktu itu aku terdoktrinasi krn kondisi sekolahku. Cukup merugikanku sebenarnya, karena fase itu bisa merubah aku yang super extrovert menjadi lebih pendiam. Lebih seriang diam malah. Aku bisa terbuka hanya pada perempuan. Bisa merekspresi 'gila' juga cm dihadapan perempuan. Jadilah banyak teman laki2ku tak berani jatuh cinta padaku, tak berani bilang suka padaku *aku tahu belakangan*. Ada seseorang yang berani mengungkapkannya dan aku tolak. Padahal kalau mau jujur, aku agak simpatik padanya. Entah mungkin aslinya cm rasa senang krn ditembak ditambah dia baik, atau memang suka aku tak tahu. Tapi rasanya beda dg yg kurasakan waktu SD.
Waktu SMA, sekolahku campuran. Alhasil aku harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Mulai keluar sedikit sisi ekstrovertku. Tapi aku tetap tampak misterius. Pendiam. Hanya bagi sebagian orang aku 'gila'. Kau tahu bagaimana rasanya? Rasanya seperti harus berganti topeng tergantung kondisi. Tergantung tempat. Dan mencari alasana pribadi agar hatiku tak merasa bahwa diriku sedang bersandiwara.
Sekarang aku sudah bisa menempatkan diri dengan lebih baik.
Wait, ceritanya malah jadi panjang. Jadi intinya, dari dulu, aku tetap berpegang teguh untuk nggak pacaran. Dan alasan tiap fase pendewasaanku berbeda2.
SD --> Takut orang tua, dilarang pacaran
SMP --> Belajar agama, doktrinasi, Pacaran itu mendekati Zina
SMA --> Mulai logis, sudah nggak menelan mentah2 doktrin, namun dipahami. Pacaran itu buang waktu, ngabisin tenaga, terkekang dan cuma pelampiasan hawa nafsu. Kalau yg dicari cuma cinta, aku bisa mencari cinta itu dari tempat lain.
Kuliah --> Pacaran itu.. ah, nggak perlu. Repot. Hati dan pikiran nggak tenang. Allah jelas nggak ridha. Di saat2 iman lagi turun, kadang mikir pengen pacaran. Tapi tetep nggak bisa. Rasanya ada hal yang nggak pas kalau pacaran. Dan karena dr dulu sudah memegang prinsip itu, jika tiba2 aku pacaran, akan melanggar prinsip itu, dan aku yakin aku akan menyesal. Sama kayak niat puasa tp batal sebelum maghrib. Yah.. kayak gitu. Udah bukan 'Aku nggak pacaran karena...' tapi 'Aku nggak pengen pacaran'. Udah pake hati memahaminya. dan dengan begini, rasanya lebih kuat aku pegang prinsip ini.
Semua memang berproses. Mungkin kamu bisa lebih cepat berproses dr pda aku. Aku bisa menjalani prinsip ini dengan hati baru setelah umur di atas 17th. Dulu aku memegang prinsip itu hanya karena 'Dilarang'. Dan berprinsip dengan hati itu lebih mudah dilakukan. Lebih enjoy. Nggak perlu pake excuse apapun. Lebih baik mempersiapkan diri untuk hubungan yang lebih berkualitas. Cheers!
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Dulu, aku pertama kali suka cowok jaman SD. Bisa dibilang cinta pertama. Sama-sama seneng, tapi nggak ngungkapin. Cuma berbahasa dengan senyuman, tawa, saling ngejek, ngobrol bareng. Aku merasa menyukainya, dan menurutku saat itu dia menyukaiku. Tapi kemudian aku ketakutan. Ketakutan untuk mencintainya. Takut jika aku semakin suka padanya, aku akan tergiur untuk pacaran. Padahal aku dilarang pacaran sama orang tua *masih SD euy*.
Maka kulancarkan sebuah siasat yang berjudul --> "Pura-pura Membencinya". Maka tiap bertemu dengannya, aku pura2 tak melihat, tiap dia senyum dan menyapaku, aku buang muka. Jika dia melakukan sedikit kesalahan pada adikku *satu SD dgku*, aku akan marah2 kayak kesurupan. Masih aku ingat waktu itu, aku marah2 padanya pas dia lagi duduk2 dengan anak cowok yang lain. Dia memandangku dengan tatapan aneh. Tatapan terganggun dan bingung. Mungkin. Aku juga rada lupa sih.. yang jelas, aksiku itu cukup memperlebar jarak di antara kita.
Waktu itu, jelas aku belum benar2 paham perasaanku sendiri, belum bisa membahasakannya seperti sekarang. Pun tetap tak paham kenapa aku bisa kepikiran untuk melancarkan aksi demikian. Satu hal yang menjadi tujuanku adalah: Tidak boleh pacaran! Titik.
Selanjutnya, waktu SMP. Masa-masa ini, aku idealis sekali. Nggak mau pacaran, nggak mau berhubungan dengan cowok kalau nggak penting, nggak mau sekedar ngobrol geje sama cowok. Waktu itu aku terdoktrinasi krn kondisi sekolahku. Cukup merugikanku sebenarnya, karena fase itu bisa merubah aku yang super extrovert menjadi lebih pendiam. Lebih seriang diam malah. Aku bisa terbuka hanya pada perempuan. Bisa merekspresi 'gila' juga cm dihadapan perempuan. Jadilah banyak teman laki2ku tak berani jatuh cinta padaku, tak berani bilang suka padaku *aku tahu belakangan*. Ada seseorang yang berani mengungkapkannya dan aku tolak. Padahal kalau mau jujur, aku agak simpatik padanya. Entah mungkin aslinya cm rasa senang krn ditembak ditambah dia baik, atau memang suka aku tak tahu. Tapi rasanya beda dg yg kurasakan waktu SD.
Waktu SMA, sekolahku campuran. Alhasil aku harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Mulai keluar sedikit sisi ekstrovertku. Tapi aku tetap tampak misterius. Pendiam. Hanya bagi sebagian orang aku 'gila'. Kau tahu bagaimana rasanya? Rasanya seperti harus berganti topeng tergantung kondisi. Tergantung tempat. Dan mencari alasana pribadi agar hatiku tak merasa bahwa diriku sedang bersandiwara.
Sekarang aku sudah bisa menempatkan diri dengan lebih baik.
Wait, ceritanya malah jadi panjang. Jadi intinya, dari dulu, aku tetap berpegang teguh untuk nggak pacaran. Dan alasan tiap fase pendewasaanku berbeda2.
SD --> Takut orang tua, dilarang pacaran
SMP --> Belajar agama, doktrinasi, Pacaran itu mendekati Zina
SMA --> Mulai logis, sudah nggak menelan mentah2 doktrin, namun dipahami. Pacaran itu buang waktu, ngabisin tenaga, terkekang dan cuma pelampiasan hawa nafsu. Kalau yg dicari cuma cinta, aku bisa mencari cinta itu dari tempat lain.
Kuliah --> Pacaran itu.. ah, nggak perlu. Repot. Hati dan pikiran nggak tenang. Allah jelas nggak ridha. Di saat2 iman lagi turun, kadang mikir pengen pacaran. Tapi tetep nggak bisa. Rasanya ada hal yang nggak pas kalau pacaran. Dan karena dr dulu sudah memegang prinsip itu, jika tiba2 aku pacaran, akan melanggar prinsip itu, dan aku yakin aku akan menyesal. Sama kayak niat puasa tp batal sebelum maghrib. Yah.. kayak gitu. Udah bukan 'Aku nggak pacaran karena...' tapi 'Aku nggak pengen pacaran'. Udah pake hati memahaminya. dan dengan begini, rasanya lebih kuat aku pegang prinsip ini.
Semua memang berproses. Mungkin kamu bisa lebih cepat berproses dr pda aku. Aku bisa menjalani prinsip ini dengan hati baru setelah umur di atas 17th. Dulu aku memegang prinsip itu hanya karena 'Dilarang'. Dan berprinsip dengan hati itu lebih mudah dilakukan. Lebih enjoy. Nggak perlu pake excuse apapun. Lebih baik mempersiapkan diri untuk hubungan yang lebih berkualitas. Cheers!
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Sabtu, 15 Februari 2014
Bukan Selalu Tentang Suami Idaman
Ini bukan hal baru sebenarnya. Ilmu ini sudah lama kutahu. Tapi entah karena apa rasanya agak terlupa. Itulah mengapa kita harus sering membaca.
Aku tersadarkan kembali. Bahwa aku sudah terlalu jauh. Terlalu berangan tentang cinta duniawi. Alhamdulillah tak jadi terjebak dengan euforia dan logika.
Ini disadur dari muslimahtalk.com, bersumber dr Ust. Salim A. Fillah
TENTANG JODOH
Pertama
Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya.
Tahu darimana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No!
Satu hal yang seringkali dilupakan oleh banyak wanita adalah bahwa kemuliaan wanita tidak bergantung pada laki-laki yang mendampinginya.
Tahu darimana? Allah meletakkan nama dua wanita mulia dalam Al Quran, Maryam dan Asiyah. Kita tahu, Maryam adalah wanita suci yang tidak memiliki suami, dan Asiyah adalah istri dari manusia yang sangat durhaka, Firaun. Apakah status itu mengurangi kemuliaan mereka? No!
Itulah mengapa, bagi wanita di zaman Rasulullah dulu, yang terpenting bukan mendapat jodoh di dunia atau tidak, melainkan bagaimana memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
Kedua
Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.
Bicara jodoh adalah bicara tentang hal yang jauh: akhirat, surga, ridha Allah, bukan semata-mata dunia.
Ketiga
Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.
Jodoh itu sudah tertulis. Tidak akan tertukar. Yang kemudian menjadi ujian bagi kita adalah bagaimana cara menjemputnya. Beda cara, beda rasa. Dan tentu saja, beda keberkahannya.
Keempat
Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.
Dalam hal rezeki, urusan kita adalah bekerja. Soal Allah mau meletakkan rezeki itu dimana, itu terserah Allah. Begitupun jodoh, urusan kita adalah ikhtiar. Soal Allah mau mempertemukan dimana, itu terserah Allah.
Kelima
Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.
Cara Allah memberi jodoh tergantung cara kita menjemputnya. Satu hal yang Allah janjikan, bahwa yang baik untuk yang baik. Maka, mengupayakan kebaikan diri adalah hal utama dalam ikhtiar menjemput jodoh.
Keenam
Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.
Dalam urusan jodoh, ta’aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal sehingga berhak menafsirkan perilaku pasangan.
Ketujuh
Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.
Salah satu cara efektif mengenali calon pasangan yang baik adalah melihat interaksinya dengan empat pihak, yakni Allah, ibunya, teman sebayanya, dan anak-anak.
Kedelapan
Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat.Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensi satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung.
Seperti apa bentuk ikhtiar wanita?
1. Meminta kepada walinya, sebab merekalah yang punya kewajiban menikahkan.
2. Meminta bantuan perantara, misal guru, teman, dll. Tapi pastikan perantara ini tidak memiliki kepentingan tertentu yang menyebabkannya tidak objektif.
3. Menawarkan diri secara langsung. Hal ini tidak dilarang oleh syariat.Bisa dilakukan dengan menemuinya langsung atau melalui surat dengan tulisan tangan. Konsekuensi satu: Ditolak. Tapi itu lebih baik daripada digantung.
Kesembilan
Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu?
Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar. Silakan pilih. Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya. Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup. Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.
Bagaimana jika ada pria yang datang pada wanita, menyatakan rasa suka, tapi meminta ditunggu dua atau tiga tahun lagi? Perlukah menunggu?
Sabar itu memang tidak ada batasnya. Tapi ada banyak pilihan sabar. Silakan pilih. Mau sabar menunggu, atau sabar dalam merelakannya. Satu hal yang pasti, tidak ada jaminan dua tiga tahun lagi dia masih hidup. Pun tidak ada jaminan kita bisa menuntut jika dia melanggar janjinya, kecuali dia mau menuliskan janjinya dengan tinta hitam diatas kertas putih bermaterai.
Kesepuluh
Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?
Tanyakan pada hatimu: Mana diantara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga?
Bagaimana jika ada pria yang jauh dari gambaran ideal seorang pangeran tapi shalih datang melamar? Bolehkah ditolak?
Tanyakan pada hatimu: Mana diantara semua faktor itu yang paling mungkin membawamu dan keluargamu ke syurga?
Sekian. Semoga bermanfaat.
Mungkin beginilah cara Allah menegurku. :))
Tak usah terlalu serius memikirkan rasa ini untuknya. Allah lebih tahu siapa yang lebih tepat untukku. Walau aku tetap berharap itu adalah dirinya. :3
Semangat upgrade diri!
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Rabu, 12 Februari 2014
Senang XD
Lagi-lagi nemuin gambar yang cukup nggak penting tapi bikin seneng. Again, I'm Belle! Yeay!
Belle, heroine di Beauty and The Beast.
Cantik, suka baca buku, pinter nyanyi. Dia princess Disney yang paling kusuka <3 <3 <3
Pokoknya suatu saat nanti aku ingin keliling perpustakaan-perpustakaan di manapun. *tekad* Pasti menyenangkan. Apalagi perpustakaan tua gitu. Ah~ butuh waktu main yang banyak.
Dulu aku mencanangkan pengen jalan-jalan keliling museum, sekarang pengen perpustakaan juga. Kalau perpustakaan tua masuk museum juga nggak, ya? Museum buku?
khukhukhu~
See? even the smallest thing could excited me and makes me happy. XD
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Belle, heroine di Beauty and The Beast.
Cantik, suka baca buku, pinter nyanyi. Dia princess Disney yang paling kusuka <3 <3 <3
Pokoknya suatu saat nanti aku ingin keliling perpustakaan-perpustakaan di manapun. *tekad* Pasti menyenangkan. Apalagi perpustakaan tua gitu. Ah~ butuh waktu main yang banyak.
Dulu aku mencanangkan pengen jalan-jalan keliling museum, sekarang pengen perpustakaan juga. Kalau perpustakaan tua masuk museum juga nggak, ya? Museum buku?
khukhukhu~
See? even the smallest thing could excited me and makes me happy. XD
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Selasa, 11 Februari 2014
One Day One Post
Huaaaaaahhhhhh~ *ngulet*
Apa kabar? Aku lagi pengen semangat! Yey! Sayangnya, akspresiku datas sekali saat ini. ._.
Baiklah, postingan kali ini saya cuma pengen refleksi.
Terhitung sejak Januari akhir, aku menargetkan diriku untuk selalu apdet blogspot minimal sehari sekali. Hmm.. berarti uadah sekitar 2 mingguan sejak target itu aku canangkan. Ternyata mewajibkan diri sendiri untuk melakukan sesuatu, terutama yang disukai itu justru menjadi hal yang berat. Aku punya kebiasaan moody, mood meledak-ledak saat sangat bersemangat. Jadi, pas semangat-semangatnya blogging, aku bisa bikin tulisan sampai 5 postingan sekaligus. Jadi, Posting banyak sekalian, habis itu ditinggal lama. Selama ini belum pernah rutin nulis atau mendisiplinkan diri untuk menulis.
Ini pertama kalinya. Aku memaksa diriku melakukan sesuatu yang kuanggap passion, kuanggap hobi dengan menjadwalkannya. ONE DAY ONE POST. Padahal aku orang yang sangat sulit bekerja sesuai jadwal. Bukan tipe yang terstruktur, kerja secara acak, dan nggak suka hal-hal monoton.
Awal-awal peluncuran progam ini, aku merasa sangat kesulitan. Kesulitan unutk konsisten, kesulitan untuk menuangkan ide menjadi tulisan. Susah memaksa bulir kata-kata ketika kita tidak menginginkannya. Tapi aku semangati diri. Kapan lagi kamu mau berusaha menepati targetmu sendiri? Memang sulit sebenarnya, karena ide itu sesuatu yang liar, sedang jadwal itu seperti mengandangkan hewan liar. Namun, bukankan ini ajang yang menarik untuk melatih dirimu menghadapi deadline? Mempersiapkan diri menjadi penulis sungguhan.
Aku pernah berdiskusi dengan teman-teman, bahwa hal baik yang ingin kita miliki, musti diulang-ulang selama 21 hari. Saat itulah hal baik itu telah menjadi kebiasaan. Kalau nggak salah disebutkan juga di bukunya Felix Siauw "How to Master Your Habits". Intinya, untuk mencapai kebiasaan menulis itu, aku masih harus menempuh satu minggu lagi. Setelah itu, aku yakin, menulis di blog ini akan menjadi hal yang ringan.
Hal baik yang aku dapatkan setelah mencanangkan program untuk diriku sendiri adalah:
1. Aku belajar tertib. Aku belum menjadi orang yang sangat teratur. Itu sulit. Karena aku nggak suka sesuatu yang monoton. Tapi menulis itu sendiri, walaupun terjadwal, ia dinamis. Tulisan yang kau buat tidak akan sama satu sama lain.
2. Mengambangkan tulisan. Ini dampak yang aku rasakan. Semakin sering menulis, semakin lancar otak mengungkapkan ide yang diinginkan, semakin mengalir kata-kata yang diutuliskan. Menulis menjadi semakin nyaman. Lama kelamaan, aku semakin sadar dengan gaya kepenulisanku. Dan setelah membuat postingan, aku nggak lagi merasa, "Ah, tulisaku terlalu random." "Wow, nggak fokus nih, tulisanku." Jadi dari segi berlatih, aku sudah meningkat.
3. Kepuasan pribadi. Kau yang pernah menargetkan sesuatu pada dirimu sendiri, dan bisa menepatinya, pasti pernah merasakan kepuasan yang sama denganku. Walaupun untuk hal kecil yang mungkin dianggap nggak penting untuk orang lain.
Semangat! Semoga tetap istoqamah menulis dan menargetkan. Program ini sendiri tak pernah kutargetkan sampai berapa lama. Hanya paling tidak sampai 21 hari. Aku sih pengennya sampai setahun ini tetap berjalan. Kecuali sangat terpaksa atau menurutku cukup, baru aku akan berhenti. :))
Tapi bloggingnya tetep jalan teruuus~ >0<
Semangat belajar! :D
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Apa kabar? Aku lagi pengen semangat! Yey! Sayangnya, akspresiku datas sekali saat ini. ._.
Baiklah, postingan kali ini saya cuma pengen refleksi.
![]() |
| Banner yang kupasang di akun fb-ku |
Ini pertama kalinya. Aku memaksa diriku melakukan sesuatu yang kuanggap passion, kuanggap hobi dengan menjadwalkannya. ONE DAY ONE POST. Padahal aku orang yang sangat sulit bekerja sesuai jadwal. Bukan tipe yang terstruktur, kerja secara acak, dan nggak suka hal-hal monoton.
Awal-awal peluncuran progam ini, aku merasa sangat kesulitan. Kesulitan unutk konsisten, kesulitan untuk menuangkan ide menjadi tulisan. Susah memaksa bulir kata-kata ketika kita tidak menginginkannya. Tapi aku semangati diri. Kapan lagi kamu mau berusaha menepati targetmu sendiri? Memang sulit sebenarnya, karena ide itu sesuatu yang liar, sedang jadwal itu seperti mengandangkan hewan liar. Namun, bukankan ini ajang yang menarik untuk melatih dirimu menghadapi deadline? Mempersiapkan diri menjadi penulis sungguhan.
Aku pernah berdiskusi dengan teman-teman, bahwa hal baik yang ingin kita miliki, musti diulang-ulang selama 21 hari. Saat itulah hal baik itu telah menjadi kebiasaan. Kalau nggak salah disebutkan juga di bukunya Felix Siauw "How to Master Your Habits". Intinya, untuk mencapai kebiasaan menulis itu, aku masih harus menempuh satu minggu lagi. Setelah itu, aku yakin, menulis di blog ini akan menjadi hal yang ringan.
Hal baik yang aku dapatkan setelah mencanangkan program untuk diriku sendiri adalah:
1. Aku belajar tertib. Aku belum menjadi orang yang sangat teratur. Itu sulit. Karena aku nggak suka sesuatu yang monoton. Tapi menulis itu sendiri, walaupun terjadwal, ia dinamis. Tulisan yang kau buat tidak akan sama satu sama lain.
2. Mengambangkan tulisan. Ini dampak yang aku rasakan. Semakin sering menulis, semakin lancar otak mengungkapkan ide yang diinginkan, semakin mengalir kata-kata yang diutuliskan. Menulis menjadi semakin nyaman. Lama kelamaan, aku semakin sadar dengan gaya kepenulisanku. Dan setelah membuat postingan, aku nggak lagi merasa, "Ah, tulisaku terlalu random." "Wow, nggak fokus nih, tulisanku." Jadi dari segi berlatih, aku sudah meningkat.
3. Kepuasan pribadi. Kau yang pernah menargetkan sesuatu pada dirimu sendiri, dan bisa menepatinya, pasti pernah merasakan kepuasan yang sama denganku. Walaupun untuk hal kecil yang mungkin dianggap nggak penting untuk orang lain.
Semangat! Semoga tetap istoqamah menulis dan menargetkan. Program ini sendiri tak pernah kutargetkan sampai berapa lama. Hanya paling tidak sampai 21 hari. Aku sih pengennya sampai setahun ini tetap berjalan. Kecuali sangat terpaksa atau menurutku cukup, baru aku akan berhenti. :))
Tapi bloggingnya tetep jalan teruuus~ >0<
Semangat belajar! :D
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Senin, 10 Februari 2014
[Semacam Review Buku] Calvin and Hobbes
Buku ini berisi komik strip tentang
keseharian anak bernama Calvin dan boneka harimaunya, Hobbes. Dari buku-buku
bertema anak yang aku baca, buku ini paling mengasikkan dan lucu untuk diikuti.
Tentu saja sasaran buku ini bukan anak-anak, menurut aku. Karena anak-anak
tidak akan begitu paham bagaimana jalan pikir mereka sendiri.
Fakta bahwa aku senyum-senyum sendiri saat membaca buku ini adalah bukti bahwa ada rasa yang terbangkitkan dari masa lalu. Pikiran-pikiran nostalgia masa kanak-kanak, dan dugaan, "Ternyata, jalan pikir anak-anak seperti ini, bisa jadi dulu akupun berpikir begitu."
Calvin diceritakan sebagai anak laki-laki yang sangat imajinatif. Dia membayangkan Hobbes, bukanlah boneka, namun harimau sungguhan yang hidup. Mereka berteman baik. Terdapat kepolosan dalam pola pikir Calvin. Tentu saja, karena dia masih anak-anak. Imajinasi yang lain adalah membayangkan guru-guru sebagai monster, percaya bahwa bisa terbang, dan merasa menjadi serigala.
Kisah lain yang lucu adalah ketika ada anak perempuan baru di kelasnya, ia menunjukkan ketertarikannya pada anak itu dengan bersikap seolah-olah membenci. Perasaan yang dulu pernah aku lalui juga. Tidak mau ketahuan suka teman.
Buku ini sarat pskologi anak, yang unik dan menarik untuk diikuti. Mungkin karena kita sudah terlalu jauh dari masa kanak-kanak, ia menjadi nostalgia yang berharga, sekaligus menambah pengetahuan.
Aku membaca buku ini berulang-ulang tanpa rasa bosan. Seperti tak pernah habis walau dibaca terus menerus. Aku sepakat dengan komentator buku ini, buku ini adalah buku yang paling merepresentasikan masa kanak-kanak dengan baik. Pokoknya asik bangeeet! >0<
Fakta bahwa aku senyum-senyum sendiri saat membaca buku ini adalah bukti bahwa ada rasa yang terbangkitkan dari masa lalu. Pikiran-pikiran nostalgia masa kanak-kanak, dan dugaan, "Ternyata, jalan pikir anak-anak seperti ini, bisa jadi dulu akupun berpikir begitu."
Calvin diceritakan sebagai anak laki-laki yang sangat imajinatif. Dia membayangkan Hobbes, bukanlah boneka, namun harimau sungguhan yang hidup. Mereka berteman baik. Terdapat kepolosan dalam pola pikir Calvin. Tentu saja, karena dia masih anak-anak. Imajinasi yang lain adalah membayangkan guru-guru sebagai monster, percaya bahwa bisa terbang, dan merasa menjadi serigala.
Kisah lain yang lucu adalah ketika ada anak perempuan baru di kelasnya, ia menunjukkan ketertarikannya pada anak itu dengan bersikap seolah-olah membenci. Perasaan yang dulu pernah aku lalui juga. Tidak mau ketahuan suka teman.
Buku ini sarat pskologi anak, yang unik dan menarik untuk diikuti. Mungkin karena kita sudah terlalu jauh dari masa kanak-kanak, ia menjadi nostalgia yang berharga, sekaligus menambah pengetahuan.
Aku membaca buku ini berulang-ulang tanpa rasa bosan. Seperti tak pernah habis walau dibaca terus menerus. Aku sepakat dengan komentator buku ini, buku ini adalah buku yang paling merepresentasikan masa kanak-kanak dengan baik. Pokoknya asik bangeeet! >0<
Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
Categories
aku,
fun,
hobi,
resensi buku,
review
Langganan:
Postingan (Atom)








