Sabtu, 08 Februari 2014

Jangan Lari!

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Februari 08, 2014 0 komentar
Aku nggak ngerti. Kenapa orang melarikan diri dari polisi ketika ada razia? //ceritanya tadi lihat tivi sekilas dan dan ada mbak-mbak yang melarikan diri dari razia/ Padahal mbaknya pake helm. Ah, mungkin tidak bawa STNK? atau SIM? Atau salah jalur?

...................................

Jadi bukankah sesungguhnya kita cenderung lari dari masalah ketika merasa bersalah?
Entahlah.

Untuk kasus razia tadi, entah kenapa rasanya itu tidak benar. Melarikan diri, bahkan ketika polisi sudah mendekati dan menarik motor si mbak, terasa tidak benar. Bukankah itu berarti menghina? Menghina pak Polisi? Bahwa sesungguhnya memang si mbak itu telah melakukan kesalahan dan kabur. Tidakkah dia sama saja dengan pelanggar-pelanggar hukum yang lain?

Aku tak bilang kalau aku tak pernah melanggar. Aku kadang tidak bawa helm untuk temanku saat harus boncengan, sehingga harus lewat jalan tikus. Itu pun jika terpaksa. Jika memungkinkan, maka aku akan pulang mengambil helm. Tapi kabur dengan jelas di depan polisi, bukankah itu keterlaluan. Jika tidak salah, kenapa kabur? Jika memang salah, kenapa tidak berani tanggung jawab? Apa itu tidak beda dengan koruptor yang kabur dari kejaran KPK? Okelah, mungkin berlebihan. Tapi aku nggak menemukan analogi lain.

Apa katamu? Balas dendam pada polisi? Jika kau kecewa pada sebagian polisi, apakah itu berarti menyalahkan semua polisi? Apakah itu berarti kabur ketika melanggar peraturan lalu lintas?
Maaf, aku tak bisa menangkap logikanya. Bagaimana jika sang polisi sebenarnya polisi yang jujur? Polisi yang lelah karena disalahkan terus menerus atas kesalahan rekannya? Itulah sebabnya kita tak bisa mengeneralisasi segala hal. Bersikaplah bijak! Aku juga belum ahli tentu saja. Jadi, mari kita berusaha bersama-sama.

Jika kecewa dengan polisi nakal, jangan terus balas dendam dengan ikut-ikutan jadi nakal. Kalau dirimu tidak teratur, bukankah itu ladang empuk bagi polisi-polisi nakal? Itu artinya kau ikut mendukung.
Cobalah patuhi aturan, karena sesungguhnya itu demi kebaikan kita sendiri, bukan?

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Jumat, 07 Februari 2014

7 Steps to Achieve a Quality Salat

Diposting oleh Camelia di Jumat, Februari 07, 2014 0 komentar
Alohaaaa~ Semangat Jumat!
Jumat itu hari penuh barokah, ditambah hari ini hujan. Adem.. :3

Nah, berhubung saya lagi males, jadi saya copy-kan atrikel dari:
http://thepiercingstar.tumblr.com/
Dan karena saya sedang super males, jd tetep pake bahasa Inggris aja, ya.. Nanti kalau udah sempat (baca: nggak males), aku buat yang bahasa Indonesianya. Gomennasai~ *bow*

1. Pray on time

First things first. When we give God priority, He gives us His priority. Look forward to the time when it’s prayer and then drop whatever you are doing to go and pray. Make this especially true for yourself if you’re traveling.

2. Slow down

Slow down in each position. This would be especially important if you’re naturally a quick reader and your salat normally finishes quickly. Slowing down can mean reciting the Quran a bit more slowly or just holding your position i.e. in sujood for a few seconds more than normal after you have finished reciting. Inshallah, this will allow you to relax and get that piece of mind in a way that is pleasing to Allah SWT as opposed to perhaps rushing the salat.

Additionally, you will find slowing down allows the Salat to run smoothly in a beautiful manner, InsyaAllah =)

3. Understand what you’re reciting

You don’t have to be a scholar to understand what you’re reciting. We should make the effort to understand at least some of what is read during salat.

For example, Surah al-Fatihah is something we all read during salat but do we know what, “Iyyaka na’a budu wa-iyyaka nasta aeen” means? “You {Alone} we worship, and You {Alone} we ask for help [for each and everything”. This Surah is also fairly short and therefore not difficult to remember.

Once we understand what we are reading during salah even if it’s not all of what is read, then we will find that sweetness you obtain from salat through understanding what we are saying. This can only allow us to become closer to Him.

Recite different surahs. If it’s Surah Ahad that you recite regularly. There are other Surahs that you’ve memorised but never recite in Salat. Recite those and reflect on it’s meanings.

4. Remember Shaitaan’s tricks!

This is our enemy, Shaitaan. We are blessed by Allah SWT that we are in a position to be performing salah but this doesn’t stop Shaitaan in our salah who is ever busy trying to distract us from our worship.

It is said in a hadith that shaitaan called ‘Khinzab’ sits on your shoulder in salah. As soon as you start the salah, it whispers and does everything to disturb you. That’s why if you find yourself running through your shopping list or what you have to do for the rest of the day then know that this is the shaitaan working its magic.

‘Uthan b. Abu al-‘As reported that he came to the Allah’s Messenger (PBUH) and said:“Allah’s Messenger, the Satan intervenes between me and my prayer and my reciting of the Qur’an and he confounds me”. Thereupon, Allah’s Messenger (PBUH) said, “That is the doing of the Satan who is known as Khinzab and when you perceive its effect, seek refuge with Allah from it and spit three times to your left”. [Muslim].

If we understand the different tricks of the shaitaan, we can avoid falling into its traps and letting our minds wander in salat.

5. Stay focused

Isolating ourselves and going in a quiet place can and should be applied to our salat. Anything that allows us to focus, concentrate and block out the world during salah can only benefit us.

Many people find sitting in wait for the salat, doing dhikr for a few minutes is very useful. This will InshaAllah allow you to forget about the world and the various things you have to do for a few minutes. Therefore, when the salat begins, you will be fully focused.

6. Increase the significance/importance of THIS salat

Try to think of the salat you are about to perform as the one in which Allah SWT will question you about on the Day of Judgement. This should help us to perform the salat with the devotion, concentration and care we are looking for.

Additionally, consider that this salat may be your last. I’m sure if we were told this would be our last salat, we would perform it with extreme devotion, avoid anything and anyone that distracted us and make it the longest salah possible. This is something to reflect on.

7. Continuously make dua

This is a vital point to consider for everyone. Dua should constantly be made to Allah SWT as without His help & His willing, we will not be able to perform the salat as required. We should continuously ask Him to send blessings on us and if for example we are struggling with remembering the Quran, or concentrating then we should continuously seek help from Allah SWT.

Finally, dua should be made thanking Allah SWT for all His bounties and giving us the blessings to be able to perform salat and pray to him despite our many faults.

A dua that should, therefore, be read constantly after salat is, ‘Allahumma innee ala zikrika wa shukrika wa husni ibaadatik’ (O’Allah, help me remember You, to be grateful to You, and to worship You in an excellent manner).

I sincerely hope this will help us all gain Kushu’ in our salat InsyaAllah. Jazakallah khair!
[this is extracted from productivemuslim.com, plus i’ve added a few more important points =)]

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Kamis, 06 Februari 2014

TUKANG CUKUR DAN KURSI GOYANG [edited]

Diposting oleh Camelia di Kamis, Februari 06, 2014 0 komentar
Jam dinding menunjukkan pukul 09.10 di warung cukur rambut Kang Abu. Dilebihkan 10 menit dari waktu asli, aku sudah hapal. Kang Abu tak pernah terlambat membuka tempat cukurnya setiap hari. Saat jam dinding di warung itu menunjukkan pukul 9 tepat, kau akan jumpai kang Abu mulai membuka tirai warungnya. Lalu jam 9.10, tepat sama dengan pukul 9 di arlojiku, warung itu sudah siap menerima pelanggan. Pelanggan di warung cukur Kang Abu biasanya tetap itu-itu saja, namun belakangan warungnya menjadi terkenal. Sepertinya ada pelanggan yang membocorkan keunggulan warung cukur Kang Abu.

Warung cukur Kang Abu bukan warung cukur elite bergaransi. Warungnya hanya merupakan ruang tamu rumahnya yang sederhana. Sudah berdinding tembok, namun masih berlantai ubin. Jika kukatakan aku adalah pelanggan setia warung cukur Kang Abu, aku tidak berbohong. Sejak aku mengenal warung cukurnya 5 tahun silam, aku tidak pernah cukur di tempat lain selain di warung kang Abu. 

Warung kang Abu memiliki kelebihan yang hanya diketahui pelanggannya, karena memang tidak diumumkan. Kelebihan pertama dari warung ini adalah tukang cukurnya, kang Abu itu sendiri. Dia orang yang sederhana, sudah banyak beruban. Badannya pendek namun tegap, gerakannya sigap, tapi tetap tidak menutupi fakta bahwa ia sudah tua. Ia dapat menyelesaikan cukur rambut dengan cepat. Tentu saja dengan lambat juga bisa, tergantung pesanan. Kelebihan kang Abu dibanding pencukur rambut yang lain adalah dia merupakan pendengar yang baik bagi pelanggannya. Warung cukur kang Abu memiliki pelayanan 'curhat' bagi pelanggannya, tentang apapun. Pelayanan inilah yang menjadi kelebihan warung cukur Kang Abu. Itu pula sebabnya pelanggan warung cukur ini selalu tetap. Bukan karena hasil cukurannya buruk, melainkan karena semua pelanggan enggan membagi porsi cukurnya dengan orang lain. Jika pelanggan kang Abu tidak bertambah, maka masih ada waktu cukup untuk mereka curhat. Namun entah mengapa seperti yang aku bilang, pelanggan kang Abu semakin bertambah. Hal ini tentu saja mengancam pelanggan-pelanggan lama sepertiku. Walau telah lama menjadi pelanggan kang Abu, ia tak akan pilih kasih. Pelanggan yang datang duluan, akan dilayani duluan. Tidak ada sistem pesan tempat, jika ada, sudah kugunakan layanan itu dari kemarin. Alhasil aku harus menunggu warung kang Abu buka. Aku menunggu di luar warung 10 menit yang lalu. Belum ada pelanggan lain. Satu keuntungan bagiku. Tentu saja, biasanya laki-laki pergi bekerja jam segini. Inipun aku sengaja bolos kuliah pagi demi cukur rambut.

Sejujurnya, tentu bukan cukur rambut alasanku datang ke warung kang Abu. Seperti juga pelanggan-pelanggan yang lain, kami cukur karena ingin curhat. Aku masih bertanya-tanya, kenapa kang Abu tidak buka kedai konsultasi saja sekalian? Kerja cukurnya sebagai sampingan.Biasanya, kang Abu akan duduk di kursi dekat pintu menunggu pelanggan datang. Pagi ini tidak, karena ia melihatku berjalan mendekat. Sengaja aku tidak menunggu di depan pintu sejak 10 menit yang lalu. Aku tidak ingin mengganggu ritual paginya menyiapkan peralatan cukur, jadi aku menunggu di angkringan seberang jalan sambil minum kopi.

"Wah, gasik sekali, mas!" Sapa kang Abu ramah.
"Iya, kang! Butuh cukur." Jawabku.

Walau dari umurnya ia lebih pantas dipanggil pak, aku memanggilnya kang. Sudah julukan. Sekali dipanggil kang, sampai tua tetap dipanggil kang. Seperti mbak Darmi penjual sayur keliling, semua orang memanggilnya mbak, dari orang tua hingga anak-anak. Sudah julukan.

"Ya mangga, duduk dulu. Saya buatkan coklat panas." Ini satu lagi kelebihan warung ini, ada minuman gratis, coklat. Pernah aku bertanya, "Mengapa coklat, bukan yang lain?". Dia cuma menjawab, "Biar tenang". Dia paham betul semua pelanggannya sedang butuh curhat, selain potong rambut tentunya. Maka jika kau edarkan pandangan ke sekililing ruangan, kau cuma akan mendapati satu meja cukur dan kursi, selain itu peralatan cukur.

Kang Abu cuma menyediakan satu tempat untuk satu pelanggan. Jika pelanggan lain datang, maka dipersilahkan menunggu di luar sambil minum coklat. Privasi, itu yang selalu dijaganya. Keuntungan curhat pada Kang Abu adalah, ia dapat dipercaya. Aslinya memang tidak banyak bicara. Bicara seperlunya saja. Ia sering punya solusi untuk masalah pelanggan, dan saat ia tak punya solusi, ia punya senyum dan segelas coklat tambahan. Semua pelanggan sudah paham.

"Mau dicukur bagaimana?" tanyanya.
"Biasa aja, kang." jawabku.

Ketika kang Abu baru memulai cukurnya, seorang bapak menyelonong masuk.
"Kang, boleh saya duluan yang cukur?" Terlihat tergesa, terlihat panik.
"Izinnya ke mas Andi ini, saya cuma tugas nyukur." Kata kang Abu sambil tersenyum.

Lalu bapak itu memandangku, ragu. Sepertinya segan. 
"Silahkan, pak. Saya bisa menunda." Bukan basa basi, memang bisa menunda.

Aku cuma hendak curhat tentang pasangan hidup. Sepertinya si bapak sedang sangat butuh solusi."Terimakasih banyak ya, dik. Terimakasih.. terimakasih.." Bapak itu terus menerus berterima kasih."Iya, pak. Nggak apa-apa. Saya nunggu di luar ya, kang!" kataku seraya berjalan menuju pintu. Lalu sekali lagi si bapak mengucap terimakasih. Kang Abu lagi-lagi cuma tersenyum.

Sekitar 10 menit bapak itu cukur. Lalu tibalah giliranku. Wajahnya sudah cukup tenang, walau mimiknya masih serius. Saat berpapasan, dia kembali berterimakasih padaku, dan aku menjawab dengan jawaban yang standar, "Sama-sama."Bapak itupun berlalu."Nah, saya lanjutkan lagi nyukurnya.", ucap kang Abu setelah aku duduk di kursi dan dipakaikan kain penutup. Sebenarnya, aku pingin sekali tanya tentang masalah bapak tadi, tapi tentu saja tidak mungkin. Kang Abu tidak mungkin mau cerita.

Guntingan kedua di rambutku, dan aku mulai bercerita tentang kegalauanku memilih pasangan. Ceritaku tak lama, dan sudah tak terlalu mendramatisir karena sudah cukup tenang. Efek coklat? Mungkin. Sugesti? Mungkin juga. Karena kali ini aku mendapat jawaban dari curhatku, aku tidak dapat tambahan coklat, tapi aku tetap dapat senyuman kang Abu.

Setelah pamit, aku berjalan pulang ke kos. Tentang masalahku, sudah ada solusi. Sudah tenang. Justru aku kepikiran tentang bapak tadi. Masalah apa yang membuatnya begitu terburu-buru? Jika dipikir-pikir, wajahnya cukup familiar.

******************************************************************
Kurebahkan badan di kamar kos sore ini. Sekarang sudah benar-benar lega, sudah jelas keputusanku tentang pasangan hidup. Kuambil koran kemarin yang belum jadi kubaca. Mataku tertuju pada satu artikel. Sontak aku memandang foto yang jelas terpampang.

Aku terduduk. Aku ingat bapak tadi! Dia pengusaha yang akhir-akhir ini sering disebut namanya karena perusahaannya terancam bangkrut. Aku terkesima dengan ketenaran kang Abu. Jaringan pelanggannya luas.

"Kenaikan dolar saat ini memang mengancam perusahaan saya. Tapi saya masih berusaha menanganinya."

Kubaca artikel tersebut, tapi tetap tidak menjawab pertanyaanku, mengapa dia konsultasi pada kang Abu? Apa masalahnya?Hari menginjak malam, masih terlalu dini untuk tidur. Aku pun memilih online. Masih penasaran, kucari nama pengusaha tadi di search engine. Kutelusuri, yang ada hanya kisah-kisah tentang usahanya. Ternyata dia sudah cukup sering diberitakan, dari yang hangat bulan-bulan lal karena kesuksesannya, hingga yang baru-baru ini karena perusahaannya terancam. Aku masih penasaran. Rasanya tidak mungkin seorang pengusaha meminta solusi bagaimana memperbaiki perusahaan pada kang Abu. Lalu kutemukan alamat twitternya. Aku mencoba bertanya. Ku follow, lalu kukirimkan Direct Message. Tidak yakin dia akan menjawabnya. Seharusnya aku kirim email saja. Ah, tapi berlebihan. Hingga larut malam aku menunggu dan dia tetap tidak menjawab. Sialnya, kebiasaanku adalah tidak bisa tidur saat penasaran. Alhasil, aku terbangun hingga pagi menunggu balasan dari bapak itu. Sangsi sebenarnya mentionku akan dibalas, tapi aku tetap menunggu. Kubaca buku filsafat ilmu sambil menunggu, berharap mengantuk. Nyatanya tidak.

Beberapa jam berlalu. Aku cek twitter, tidak ada jawaban. Ah, sudah pukul 2 pagi! Mungkin sebaiknya aku pergi ambil wudhu. Shalat malam. Salah satu solusi dari beberapa solusi yang ditawarkan kang Abu. Selesai shalat, kembali kupantengi twitter. Susah memang menahan penasaran.

Hei! Ada balasan! Buru-buru kubaca balasannya. Ia mengirimkan sebuah link yang menggiringku pada sebuah catatan.

Kepada dik Andi yang penasaran akan saya. Sesungguhnya saya tak ingin banyak bercerita.  Hanya karena saya masih berterimakasih pada anda, makanya saya ceritakan sedikit. Bukan masalah perusahaan yang saya khawatirkan, tapi masalah janji. Janji saya pada orang tua saya bahwa saya tidak akan pulang ke rumah hingga saya sukses merajai pasar Indonesia. Karena janji saya ini, saya jadi nelangsa karena tidak pulang saat ibu saya meninggal. Jika perusahaan saya bangkrut, saya terancam tidak dapat pulang selamanya. Ketakutan itu membayangi saya. Saya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Ayah saya sudah tua. bahkan saya tak tahu keadaannya.

Dengan perasaan campur aduk, hari ini saya pulang. Lalu saya bertemu dengan anda. Ayah saya hanya berkata, "Seorang lelaki tidak melanggar janjinya. Hari ini, kau adalah pelangganku. Anakku akan pulang jika sudah sukses merajai pasar Indonesia." Ia menganggap saya pelanggan hari ini, bukan anak. Maka saya tidak boleh pulang hingga aku sukses. Saya menceritakan ini semata-mata karena rasa terimakasih dan kepercayaan saya.

Aku tetap tidak percaya walau kubaca berulang-ulang postingan itu. Aku semakin tidak bisa tidur, hingga adzan subuh berkumandang. Aku shalat.

Pukul 9 tepat aku kembali ke warung kang Abu. Dia tersenyum menyambutku.

"Potongannya salah?" tanyanya.
"Tidak, kang. Mau merapikan sedikit rambut depan." Sebenarnya tidak, aku ingin bertanya.

Ada yang lain saat memasuki warung cukur kang Abu. Ada kursi goyang, berwarna cokelat dengan ukiran naga di kaki kursinya.

"Baru, kang?" tanyaku.
"Itu hadiah dari anakku."
"Hooo..." Lalu aku terdiam. Tak bisa bertanya apapun. Tidak cerita apapun. Hanya diam. Kang Abu pun diam.
"Sudah selesai." Katanya sambil berlalu menuju dapur. dan akupun mendapat segelas lagi coklat panas gratis.

============================

nb. Ini cerpen oneshot, pernah aku share di facebook pribadiku. Bikinnya abis maghrib smp pukul 20.47. 
Aku membuat tantangan untuk diriku sendiri: Mencoba membuat cerpen dari judulnya dulu. Masih terasa ada yang mengganjal. Mangga teman2 memberi masukan, mungkin tau apa yg kurang sedap. Terimakasih~

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

[Semacam Review Buku] Ketika Orang Tua Tak Lagi Dihormati

Diposting oleh Camelia di Kamis, Februari 06, 2014 0 komentar
Tiba-tiba ingat dengan buku lamaku. Buku nonfiksi kedua yang kumiliki. Judulnya Ketika Orang Tua Tak Lagi Dihormati karangan H. A. Fulex Bisyri. Sebenernya ini bukan review. Ini hanya kata-kata yang aku suka dari buku itu.

ini salah satu isi dalam buku tersebut, 
ikhwan: lelaki muslim
akhwat: wanita muslim

Cerita Ibu tentang Ikhwan Sejati
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya
Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati
Sang ibu tersenyum dan menjawab,
"Ikhwan sejati bukan dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang di sekitarnya.
Ikhwan sejati bukan dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana ia dihormati di tempat kerja, tapi bagaimana ia dihormati di dalam rumah.
Ikhwan sejati bukan dilihat dari kerasnya pukulan, tapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
Ikhwan sejati bukan dilihat dari dadanya yang bidang, tapi dari hati yang ada di balik itu.
Ikhwan sejati bukan dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tapi dari komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya menjalani lika-liku kehidupan.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya ia membaca Al-Qur'an, tapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang dia baca."

Setelah itu ia bertanya, "Siapakah yang dapat memenuhi kriteria itu, Ibu?"
Sang ibu memberinya buku dan berkata,  "Pelajari tentang dia"
Ia pun mengambil buku itu, MUHAMMAD judul yang tertulis di buku itu.

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Rabu, 05 Februari 2014

Book is 'A Bit' Like Oxygen and Better Than Nitrogen

Diposting oleh Camelia di Rabu, Februari 05, 2014 0 komentar
Sebenernya postingan kali ini sama sekali nggak berhubungan sama judul, kecuali tentang bukunya. Cuma pengen pake judul yang mentereng aja demi kepuasan pribadi /apasih/ walau sebenernya sedikit mewakili hati penuls, sih.. Tanpa buku pasti hidup jadi kosong, yah.. tapi tetep lebih penting oksigen sih.. /udah jelas. Oke, lanjut cerita.. :3

Yuhuuuuu!
Paling seneng itu kalau habis beli buku baru. Apakah kalian melihat wajahku yang berseri-seri? *tersipu*
Jadi ceritanya, aku mau pamer dikit tentang koleksi bukuku yang baru. Kenapa ada koleksi baru? Karena Togamas baru aja menggelar diskon 30% untuk semua buku dan obral komik seharga 5000-an! >0<

Namanya hobi baca dan beli buku, seringkali aku rela nggak jajan, ngirit2 uang makan, nggak beli baju, demi nabung buat beli buku. Aku yakin, teman-teman yang nasibnya seperti aku banyak. Masih untung aku ada kerja partime yang honornya bisa dijadikan subsidi buat beli buku. Kadang malah dihabisin sama sekali buat beli buku. T-T

Untung pada saat bencana yang membahagiakan itu terjadi, tabungan saya sudah cukup banyak, walaupun tetep musti nomboki dari uang jajan. :3 Bocoran: saya mendatangi Togamas hampir tiap hari loh, jadi buku-buku ini dibeli terpisah.

Oke, jadi buku baru saya antara lain:

  • Titik Nol
  • Totto Chan's Children
  • Bukan Pasar Malam
  • Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir
  • Kreatif Sampai Mati
  • Komik Hai, Miiko Vol. 26
  • Komik One Piece Vol. 43, 63, 64, 66
  • Komik Arsene Lupin Vol. 1
  • Komik Nan Nan's Dialy Life Vol. 1
  • Komik Prince of Tennis Vol. 27
  • Puri Gorila Merah
  • Inferno
Khusus yang dua terakhir, itu bukan beli di Togamas. Puri Gorila Merah aku beli online karena susah banget ndapetinnya secara offline di Jogja. Motivasi beli buku ini, satu-satunya adalah mau nostalgia alias membangkitkan kembali romantisme membaca di masa kecil (apalah bahasanya~). Dulu pernah baca buku ini, tapi cuma minjem, dan aku penasaran wujud buku itu sekarang. Buku jadul, buku jaman SD. dan Ongkir yang kukeluarkan lebih mahal dari harga buku, -_-" //tapi ga masalah, karena keinginanku terwujud. :D

Selanjutnya, INFERNO! Review yang pernah aku buat dan aku ceritakan di sini, ternyata lolos dan mengantarkanku mendapatkan Inferno ini secara gratis! Iyeeeeey!  >0< udah, gitu aja. Intinya saya senang. Alhamdulillah.. :3

Selamat membaca!
ps. Rak bukuku nggak muat lagi, padahal abis beli. T-T *curhat*

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Selasa, 04 Februari 2014

[Semacam Review Buku] Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati!

Diposting oleh Camelia di Selasa, Februari 04, 2014 3 komentar
Waktu Togamas ngasih diskon 30% dan membuat saya 'sedikit' kalap, saya membeli buku ini. Cerita lengkapnya ada di artikel sebelah.

Sekarang aku mau membahas sedikit tentang buku ini.

"Hah, sudah habis?" itu komentar yang terlontar setelah membaca buku ini.

Sebelum membeli buku ini, saya agak sangsi, apa benar ini buku bagus? jangan-jangan cuma humor yang mengatasanamakan kreatif? Akhirnya saya tetap beli buku ini. Buku yang awalnya dibaca dengan niat 'sebagai pengantar tidur', akhirnya malah membuat saya semakin tidak bisa tidur. Seru sekali!

Buku ini sangat menarik untuk diikuti, colorfull, nggak monoton, bahasanya asik, dan banyak ilustrasi. Kadang kita terjebak pada 'buku dengan banyak tulisan selalu lebih berbobot'. Nyatanya tidak. Saya setuju dengan komentar istri penulis tentang draf tulisan ini (sebelumnya) yang 'bapak-bapak' banget. Karena jika tidak ada komentar tersebut, buku ini nggak direvisi, nggak asik, bisa jadi saya nggak beli buku ini, nggak jadi insomnia, dan nggak termotivasi untuk kreatif.

Buku ini benar-benar menyadarkan diri ini bahwa selama ini kita memang telah -terlalu sering- membunuh kreativitas untuk mengamankan diri. Merasa nggak bisa menggambar hanya karena gambar kita terlihat aneh dan dinilai 75 oleh guru. Alhasil kita berada di kondisi monoton dan stagnan.

Dalam buku ini, penulis mengajarkan untuk memulai bertanya "Bagaimana kalau..?" dan memulai inisiasi. Sambil membaca buku ini, saya berpikir 'sudah berapa banyak kata "bagaimana kalau" yang saya abaikan?' dan tergantikan dengan, "Ya sudahlah.."?

Komentar-komentar pengantar di awal buku ini sangat tepat! Buku ini memicu pembaca untuk kreatif. Kreatif pada bidangnya masing-masing. Membaca buku ini bikin 'nagih', sampai saya tak sadar bahwa buku ini sudah selesai dibaca. Rada kecewa ketika membuka halaman selanjutnya dan mendapati profil penulis, :p.

Ini menunjukkan bahwa buku ini berhasil! Selamat datang di dunia kreatif! >0<

ps. review juga bisa dilihat di sini: http://www.lendabook.co/books/detail/1230

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Senin, 03 Februari 2014

Sesuatu Itu Bernama Lendabook

Diposting oleh Camelia di Senin, Februari 03, 2014 0 komentar
Lendabook. Kau tahu apa itu? Berasal dari kata Lend-A-Book. Lendabook itu semacam jejaring sosial yang memfasilitasi para pembaca buku dan kolektor buku untuk saling pinjam meminjam.

Kau tahu? Buku akan menjadi lebih bermanfaat ketika dibaca? Tentu kau tahu.

Aku ingin sedikit bercerita tentang Lendabook. Perjalananku bersama Lendabook diawali tahun kemarin. Dimana aku sedang dalam posisi secupu-cupunya karena cuma punya medsos Facebook. Aku memang cinta buku, sangat. Dan aku punya banyak teman yang sehobi. Salah satunya teman kosku. Dia memberitahuku ada sebuah website yang pasti bakal aku suka.

P: Qi, ada website keren. Kamu pasti suka.
Q: Apaan? //nggak begitu tertarik, karena pada saat itu lagi seneng-senengnya main di Livemocca.
P: Namanya Lendabook, website tentang pinjam meminjam buku.
Q: Hoooo~ ada, ya? //denger kata buku langsung tertarik dan berseru:
Q: Kereeen~ oke, aku sign up.

Selidik punya selidik, ternyata itu web udah ada sejak 2012 (kan, ane katrok), tapi nggak masalah, daripada nggak tahu sama sekali. :D

Dimulailah saya seperti kecandan ngunjungin web tersebut. Ada fitur Collection yang bisa dibilang seperti perpustakaan virtualku. Aku langsung rajin menuhin perpustakaan itu dengan bukuku. Sayangnya, mayoritas bukuku belom pernah ada di Lendabook. Setelah cari tahu, akhirnya aku tahu kenyataan yang sebenarnya: Buku harus diaplod sendiri! //Maleeeeees~~

Tapi karena aku merasa melihat perpustakaanku yang kosong melompong, dan gairah pengen pamer buku, akhirnya aku aplod dengan rajin minimal sehari 5 buku. Setelah semua buku teraplod, aku berkelana keliling Lendabook, baca cerpen-cerpen, baca artikel-artikel, nge-chat semua orang yang online (kurang kerjaan banget), dan melupakan facebook (bohong).

Akhirnya, ada tawaran utnuk menjadi volunteer Lendabook, dengan persyaratan harus mengirimkan CV dan diseleksi dahulu. Okey, aku pun mengirimkan CV. Alhamdulillah aku diterima. :D
Niatku saat itu emang pengen mendukung web keren ini biar seluruh dunia tahu. Membantu sebatas kemampuanku. Eh, aku udah bilang belum ya, web Lendabook ini asli bikinan bapak muda Indonesia, loh.. :3

Aku puas. Aku suka jadi volunteer, dan kali ini kegiatan volunteerku mengcover hobi membacaku. Seperti mendapat dua keuntungan sekaligus. Satu quote yang sangat aku suka dari Lendabook (ga tau aslinya dari mana), yaitu:

"Tidak ada orang yang tidak suka baca buku. Yang ada hanya orang yang belum menemukan buku favoritnnya."

Yuk, gabung ke Lendabook! Biar banyak temen dan ketemu temen sehobi. XD
Kalau udah gabung, follow aku yak.. hehehe... :3


Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Minggu, 02 Februari 2014

Pengemis Cinta

Diposting oleh Camelia di Minggu, Februari 02, 2014 0 komentar
Do you know what makes me feel more pathetic?
It's that i want to sleep more just to meet you in my dream.
Even you don't appear much.
Aku masih tergugu. Tersentak dalam diam oleh pikiranku sendiri. Aku tak pernah merasa lebih menyedihkan daripada ini. Sungguh, aku pantang mengasihani diriku sendiri. Karena yang paling menyedihkan dari kisah sedih adalah mengasihani diri sendiri. Dan aku merasa bodoh karena aku baru saja melakukannya.

Ini semua salahmu. Inginnya aku mengucapkan itu. Tapi nyatanya ini salahku. Salahku yang diam-diam mengagumi matamu, menikmati senyummu, dan dengan seenaknya memikirkanmu. Aku tentu tak bisa menyalahkan dirimu yang tiba-tiba muncul dalam hidupku, bukan? Karena kemunculanmu sesungguhnya bukan perkara yang istimewa. Kita bertemu sebagai rekan, sebagai teman.

Aku yang kolot. Aku yang terlalu konvensional. Menurutku wanita yang berhak dicintai lebih dulu, diucapi 'aku mencintaimu' lebih dulu. Ah, What a pride! Aku terlalu bertele-tele. Pun hati dan pikiranku, tak pernah mau sejalan. Perkara begini seharusnya tak jadi masalah besar. Tergantung mana yang kau pilih, menyelesaikan dengan logika, atau dengan rasa. Nyatanya kini aku tergugu, diam, tak tahu harus memilih yang mana. Mungkin sebaiknya dibiarkan mengalir? Tapi bukankah air berpeluang untuk jatuh? Untuk tak sampai ke hilir? Untuk menguap menjadi udara dan tak mengalir lagi?

Kenapa kini aku terlalu dipusingkan hal tak penting semacam ini?
Dulu semua terlihat tegas. Jelas. Hitam dan putih.
Kini, semua tampak abu-abu. Bahkan tak tahu lagi mana yang sebenarnya merupakan kebenaran.
Satu hal yang aku tahu, masih ada yang memberikan cinta padaku secara cuma-cuma. Mungkin ini saatnya aku kembali meminta cinta itu.

Sudahlah,
seharusnya aku sudah tahu, cinta mana yang lebih murni, cinta mana yang akan tetap membuatku bisa bertahan. Bahkan ketika aku tak bisa lagi mengagumi matamu, menikmati senyummu, dan dengan seenaknya memikirkanmu, aku masih punya cinta yang lebih besar.

Cinta yang tak akan pernah habis untuk semesta.
Bergegas aku beranjak, berwudhu. Mungkin sebenarnya yang aku butuh adalah cinta-Nya. bukan yang lain.
Dan di penghujung doaku, terselip satu nama yang kuharap dapat menjadi penyalur cinta-Nya untukku. Ternyata, aku belum berhenti berharap.

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Sabtu, 01 Februari 2014

Ketika Ambisi Itu Disebut Ramen

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Februari 01, 2014 0 komentar
Warning: this post is so long and contain of 'curhat colongan' from the author. So, leave immediately if you think you'll waste your time by reading it.

Hari itu, Jumat, 31 Januari 2014. Diriku dan seorang teman berniat makan ramen. Petama, karena pengen, kedua karena sariawan (sangat susah makan nasi saat sariawan segede gaban nempel di pangkal lidah *btw, gaban itu segede apa?*//lupakan). Alhasil kami menuju tempat makan jepang yang deket dengan kosan (Sendowo), Nagoya. Tenyata ramen di sana sedang tidak tersedia. Mienya habis.

[Q = saya, P = teman]
Q: gimana, nih?
P: lha gimana?
Q: nggak jadi aja?
P: ya udah, yuk?

Akhirnya kami beranjak. Demi dapet ramen, kami rela jau ber-motor menuju Sushi story di daerah Seturan. Kenapa kesana? Karena ramennya enak dan relatif terjangkau. Sebenarnya ada yang lebih dekat lagi, yaitu Nikkou ramen, hanya saja rasanya masih kalah. Jadi, memilih kualitas, kami rela menempuh perjalanan lebih jauh dengan kondisi panas dan belum mandi.

Sesampainya di Sushi Story, disambut AC yang adem banget. Rasanya worth it! Setelah milih tempat duduk, menuliskan pesanan, menuju kasir (bayar di muka), dan..
"Ramennya kosong, mbak", sejenak aku pengen lemeees. Pandang-pandangan dengan temanku, dan..
"Maaf, mbak nggak jadi."
kami pun pergi.

Q: Kemana nih?
P: dimana lagi yang ada ramen
Q: pilihannya Nikkou atau Kay ramen yang deket sushi kakilima. Enak Kay ramen, tapi kayaknya jam segini belum buka. Mau nyoba?
P: boleh.
Q: Abis ini kita ke Sagan (lokasi Kay Ramen), kalau nggak ada kita ke Nikkou, gimana?
P: Oke.

dan kami menghela motor ke Sagan -dan masih panas- disambut jalanan Sagan yang aduhai ramainya.
Setibanya di perempatan Galeria, mulutku musti tersenyum kecut. Gimana lagi? belum mandi. Sesuai dugaan, masih tutup. Mau nggak mau, kami memutar kendaraan dan menuju Nikkou ramen di jalan Monjali (Am Sangaji).

Di lampu merah aku berpikir, bagaimana jika nanti Nikkou ramen tutup atau ramennya habis?
Dalam perjalanan aku berpikir, kalau di Nikkou habis juga, atau malah tutup, mungkin aku bakal beli mie ayam. Lalu aku berpikir lagi, ramen tadi tak ubahnya seperti ambisi, mimpi. Aku pengen makan ramen. Walau sederhana, ia merupakan ambisi juga. Perlu perjuangan untuk mendapatkannya. Tak terpikir berapa banyak bensin yang habis untuk malang-melintang mencari ramen, kulit yang jadi kering karena kepanasan, dan perut yang semakin keroncongan karena belum makan dari pagi. Jika ambisi itu tak begitu kuat, bisa jadi aku sudah selesai makan takoyaki di Nagoya atau sushi di Sushi Story.

Jika benar akhirnya Nikkou tutup atau kehabisan ramen, maka aku akan benar-benar makan mie ayam. Jika benar mengejar ambisi berkali-kali dan tetap belum tercapai, mungkin perlu bagi kita untuk menilik lagi, sebenarnya apa tujuan kita berambisi demikian? Apakah hanya karena nafsu? Sebenarnya pun tak salah jika kita berambisi hanya karena ingin. Karena kadang kata 'ingin' yang kita lontarkan, bisa jadi merupakan akumulasi alasan-alasan yang membuat kita menginginkan sesuatu, namun tak dapat terucap. Terkadang nalar kita bisa bekerja lebih cepat daripada logika dan membentuk kata 'ingin'.

Namun, jika memang kita merasa tak perlu lagi memaksakan ambisi, makan mie ayam bukan merupakan jalan keluar yang buruk. Bahkan bisa dibilang bijaksana. Karena kita kembali bertanya. Sebenarnya apa motif kami rela mencari ramen dari tadi? Jawabannya karena lapar. Jadi, ketika kita belum mampu -setelah segala upaya- mewujudkan ambisi kita, kita perlu setidaknya memenuhi hal dasar yang menjadi kebutuhan kita. Contoh realnya, ketika dengan segala upaya saya belum bisa dapat beasiswa ke luar negeri, ada baiknya saya mencari beasiswa di salam negeri. Karena motif mencari beasiswa adalah untuk melanjutkan studi. Hal seperti ini bukan berarti putus asa, kita hanya menyesuaikan dengan kondisi, dan kembali mengingatkan diri kita tentang tujuan awal.

Berhenti sejenak, melupakan sementara ambisi kita, dan mengingat tujuan awal, bisa menjadi hal yang penting untuk meraih mimpi. Ia tak sia-sia. Karena bisa jadi nantinya kita bisa mendapatkan jalan lain untuk memenuhi ambisi tersebut. Sama seperti, tak apa makan mie ayam dulu, untuk memenuhi perut keroncongan. Makan ramen bisa ditunda nanti malam atau besok. See? sebenarnya tidak merugikan kita.

Jadi begitulah sedikit analisis sok tahu saya pas di lampu merah.
Bagaimana akhirnya?
Akhirnya saya bisa makan ramen karena Nikkou masih buka, :D berarti ambisi saya terpenuhi. Tapi sebelumnya, saya benar-benar sudah siap makan mie ayam seandainya Nikkou tutup. Saya lagi beruntung.
Okay, selamat berakhir pekan!


Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Jumat, 31 Januari 2014

Kenapa Celengan Disebut Piggybank?

Diposting oleh Camelia di Jumat, Januari 31, 2014 0 komentar
Kenapa celengan itu disebut piggybank? Kenapa musti babi? Kenapa bukan doggybank atau cattybank? Padahal babi kan rakus. Kenapa jadi simbol tabungan? Apa karena makannya banyak dianalogikan dengan dia makan duit banyak?

Petanyaan itu dari dulu selalu bikin penasaran. Tapi akhirnya terlupakan.
Dan akhirnya suatu ketika makbedunduk itu pikiran muncul lagi di otakku. Kenapa, ya?
Selidik punya selidik, setelah tanya sama mbah gugel yang sakti, akhirnya aku tahu darimana asal kata Piggybank.

Ternyata, kata Piggybank adalah hasil bentukan budaya berbahasa. Dengan kata lain, Piggybank bukan istilah yang sengaja dibikin oleh seseorang untuk mengartikan celengan.

Berdasarkan penuturan di web ini, diketahui bahwa kata pada Inggris jaman dulu (kisaran abad 15) tersebutlah kata "pygg" yang artinya tanah liat. Orang-orang banyak membuat peralatan sehari-hari dengan tanah liat tersebut. Termasuk peralatan rumah tangga. Sekitar abad 18, pengucapan kata "pygg" mulai terdengar sama dengan 'pig' yang berarti babi. Dan tersebutlah oknum yang membentuk gerabah dari tanah liat yang berbentuk seperti babi. Kemungkinan (bisa jadi), ia adalah seorang perajin gerabah salah paham ketika ada order 'pygg' jar, dia menganggapnya 'pig' jar.

Pas tahu fakta ini, jadi pengen ketawa ngakak. Pantes aja kalau dilogika gak bakal ketemu-ketemu kenapa modelnya musti babi. Karena ternyata kata piggybank terbentuk karena -semacam- kecelakaan bahasa yang kemudian diturunkan secara otomatis dalam keseharian. Mungkin dulu pas abad 15, pronounciation dari pygg itu berbeda dengan pig, jadi tak ada kerancuan. Dan mulai abad 18 mulai terjadi pergeseran logat, yang menjadikan pronounciation kedua kata itu mirip.

Itu analisisku aja, sih.. kalau mau memastikan, tanya aja mbah gugel lebih lanjut tentang pronounciation of pig sebelum dan sesudah abad 18 (kalau itu emg cukup penting untuk dicari). Oke, sip. Sekian dan selamat menabung! :D

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
 

Bunga Rumput Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei