Sabtu, 12 April 2014

[Jajamu] Monumen Jogja Kembali

Diposting oleh Camelia di Sabtu, April 12, 2014 2 komentar

Aku punya misi "Keliling Museum di Seluruh Indonesia".
sebut saja Jalan-jalan Museum (Jajamu)
Dan ini liputan pertamaku tentang perjalanan ke museum.

Aku sudah berkali-kali ke Monumen Jogja Kembali. Di Monumen ini, ada diorama dan museumnya.
 Jaman kapan itu, aku lupa tanggal berapa, aku main ke Monumen Jogja Kembali (Monjali). Fyi, Monjali ini sering disebut 'Gunungan Semen' sama orang Jogja. Aku yakin maksudnya hanya untuk bercanda. Sudah lama aku nggak main ke Monjali. Banyak banget koleksi ngangenin yang membuatku ingin kembali kesana lagi.

Dan setelah kedatangan terakhirku ke sana kemarin, ada satu hal yang ingin kulakukan jika sempat main kesana lagi, yaitu membaca di perpustakaan. Perpustakaan Monjali tidak besar, namn koleksinya aduhai. Banyak kliping majalan lama, dokumen-dokumen, dll.

Dulu aku nggak pernah ngeh pada koleksi bukunya. Aku malah belum pernah mampir sebelumnya. Bahkan aku nggak tahu kalau ada perpustakaan di sana. Aku terlalu perhatian pada koleksi museum.
So, I'll be there again next time, Insyaallah...

Ini beberapa foto yang aku ambil. Nggak semua aku aplod soalnya males. Jadi aku pilihin foto favorit aku aja. Haha... 
Selamat jalan-jalan ke Museum!

Diorama: Pak Sudirman menerima perintah dari Pak Karno

Mesin ketik dan stempel jadul

Merpati pos is real! Keren, ya~

Kenampakan perpustakaan Monjali

Mas, mas.. boleh nebeng bonceng?

Foto ini berhasil membuatku merasa foto bareng pak Hatta. :3
Funfact yang aku dapat setelah berkunjung ke sini adalah: Kacamatanya pak Hatta di patung itu bisa dilepas. Entah aslinya boleh apa nggak. Semoga boleh, karena aku ingin mencoba melepasnya dan memakainya, terus minta difotoin. >0<
Jadi, agenda selanjutnya kalau main ke sini lagi adalah berfoto dengan kaca mata Patung Pak Hatta dan baca buku di perpustakaan Monjali sepuasnya.
Oke, wait for the next trip!

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Hei, Aku Udah Move On

Diposting oleh Camelia di Sabtu, April 12, 2014 0 komentar
Hai, apakah aku pernah bercerita padamu tentang patah hati?
Aku orang yang logis. Terkadang perasa. Jadi aku tak begitu mengerti apakah aku termasuk golongan 'Thinking' atau 'Feeling'. Namun aku pernah sangat logis dalam memandang semua hal. Termasuk tentang cinta.

Aku pernah berpikir bahwa cinta itu urusan menye-menye, bahwa cinta itu bisa dimanage. Bisa memilih untuk tidak mencinta dan tidak harus sakit. Makanya dulu aku nggak terlalu suka cerita cinta. Pun sekarang, tapi sudah lebih toleran. Cuma orang tak akan benar-benar tahu suatu perasaan sampai ia merasakannya sendiri. Itu benar. Itu sungguh benar.

Oh, ya. Apa aku pernah bercerita padamu tentang patah hati? Tentang bangkit kembali dari patah hati? Tentang logika yang menyatakan bahwa aku tak perlu bersedih untuk hal semacam itu, untuk tak perlu menyibukkan diri memikirkan hal tak penting. Logikaku benar. Hanya saja, rasa tak bisa dipaksa. Oh, atau mungkin bisa? Ya, bisa. Tapi sakit. Dan mengobati sakit dengan rasa sakit hanya akan membuatnya sekamin parah.

Lalu bagaimana?
Percayalah pada Allah yang menciptakan waktu.
Karena waktu (dengan izin Allah) bisa mengobati segalanya. Termasuk rasa sakit di hatimu.
Dua bulan itu, cukup singkat bukan? Mungkin aku cukup berhasil. Atau mungkin karena aku mengobatinya dengan baik. Atau aku mendapat banyak hal yang mengalihkanku dari rasa sakit, hingga aku tak sadar ia tiba-tiba telah sembuh. Seperti koreng kering yang membuat kita merasa sedang terluka, tapi setelah dikelupas, nyatanya luka itu telah sembuh (Oke, perumpamaan ini agak buruk).

Welcome the new path of mylife! >0<
Suddenly it feels like 'that' was doesn't matter anymore. Dan untuk kalian yang masih dalam masa 'itu', obatilah dengan baik. Dan tentu saja yang paling penting, bersedialah untuk berobat. Kadang obatnya ada di sekitarmu, kau hanya tak menyadarinya.

Udah dulu, btw. Bye.


Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Random

Diposting oleh Camelia di Sabtu, April 12, 2014 0 komentar
Hai! Cukup lama aku nggak nulis di sini. Banyak hal terjadi sebenarnya, hanya saja aku merasa enggan menuliskannya di sini. Enggan bukan berarti tidak mau. Aku ingin bercerita banyak, tapi entahlah.. rasanya tak ingin menulis. Rasanya kata menjadi sulit untuk dirangkai. Pun malam ini. Tanganku gagu, tersendat untuk berbicara tentang rasa. Hampir kegaguannya membuatku urung menulis portingan ini dan menempatkannya menjadi draft. Oke, draft itu suatu saat dapat diposting, tapi itu hanya kemungkinan. Dan aku hampir tak pernah memposting draft postinganku. Draft would be draft and someday will be deleted. Hahahaha...

So, forgive me if i'm going random with this post because actually i don't know exactly what i'm going to say.
Banyak hal terjadi. Banyak. Hal biasa, hal luar biasa.
Banyak pelajaran.
Banyak rasa.
Dan aku semakin sering tidur pagi.
Oh, ya. Mungkin kau berpikir aku terlalu sibuk mengurusi blogku satunya. Tumblr. Mungkin memang begitu sebab awal aku jarang posting di sini. Tapi bisa jadi tidak. Bisa jadi aku memang enggan menulis. Bahkan di tumblr pun.

Hei, ketika kau melakukan sesuatu, pernahkah kau bertanya pada dirimu, "Hei, apa yang kau lakukan? Apa yang kau inginkan dengan melakukan ini?" dan selanjutnya kau akan bertanya pada logikamu dan menemukan keraguan, kegamangan, seperti semuanya tiba-tiba tak berarti.
Tak usah, tak usah kau menebak-nebak apakah aku mengalami hal itu atau tidak. Sudah pasti iya. Sering. Makanya aku menuliskannya.

Maafkan aku jika kau sudah membaca postingan ini.
Aku tau sungguh random.
Berkali-kali tanganku ingin berhenti mengetik karena ke-random-anya. Tapi untunglah otakku memberiku semangat. Namun logika seringkali membuatku mati rasa. Dan membuatku semakin sulit menulis.

Oke, bagaimana jika tak usah merasakan apapun, tak usah berpikir apapun, dan akhiri saja postingan ini?
Baik, aku setuju.
See ya in the real world!

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Rabu, 05 Maret 2014

Cukup Cinta

Diposting oleh Camelia di Rabu, Maret 05, 2014 0 komentar
Cinta bukan hanya tentang lelaki dan wanita. Tak usahlah kau terlalu pusing. Masih banyak hati-hati yang bisa kau suguhi cinta. Bukankah kau punya cukup cinta untuk dibagikan?

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Sabtu, 01 Maret 2014

[Semacam Review Buku] Princess Sendal Jepit

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Maret 01, 2014 0 komentar
Sebuah review buku seringkali subyektif. Karena review pasti berbasis pengetahuan dan preferensi masing-masing. Kali ini aku akn mereview buku berjudul PRINCESS SENDAL JEPIT. Review kali ini aku usahakan nggak subyektif *berlatih*.


Okey, kita mulai! Data buku dulu deh, biar kaya resensi keren.

Data Buku
Judul: Princess Sendal Jepit
Penulis: Agyasaziya Razievy
ISBN: 9786020221656
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 244 hlm
Tahun terbit: 2013 (September)

Pertama baca judulnya, aku pikir buku ini adalah novel remaja bergenre teenlit. Setelah mencermati covernya, terdapat tulisan 'Diary Muslimah Blogger Oncom', dan akupun sadar bahwa buku ini berisi kumpulan kisah penulisnya yang pernah terangkum dalam blognya. Tenyata memang benar. Kenapa sendal jepit dan lain sebagainya, diceritakan oleh penulis di bagian pembukaan buku ini. Jadi, nggak perlu aku ceritakan lagi. Bicara tentang cover, buku ini punya cover yang manis sekali. Biru muda dengan wajah seorang gadis. Cantik, simpel. Dari cover, buku ini cukup menarik perhatian pembaca.

Lalu mulailah perjalanan menyelami isi buku yang ditulis oleh kak Agyasaziya Razievy ini. Seperti yang aku sebutkan, isinya adalah beraneka cerita harian si penulis dan berbagai curhatannya. Diary. Penulis membawakan buku ini dengan bahasa yang bubbly, ceria, khas sanguinis. Kita bisa merasakan keceriaan penulis dalam bahasanya. Penulis banyak menuangkan pengalaman uniknya, pengalaman menyeramkan, dan berbagai pengalaman cinta juga. Dalam buku ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk mengamalkan cinta yang halal. Karena menurut penulis, banyak orang yang sudah terjebak pada hubungan pria dan wanita yang tidak sehat dan tentu saja tidak halal.

Kamu tidak suka bahasa bubbly pada buku? Tenang saja, kau akan menemukan bahasa melow dan melankolis juga di buku ini. Terutama saat Kak Agya menceritakan rasanya tentang cinta. Kisah-kisah di bagian akhir bisa membuat kita ikut maelankolis. Even lah, seimbang. Membaca buku ini seperti disuguhi cerita kocak dan prosa romantis sekaligus.

Secara umum, kamu sangat bisa mendapatkan manfaat dari buku ini. Mengetahui pengalaman orang lain, itu ada baiknya. Karena jika pengalaman itu baik, bisa kita contoh dan jika itu buruk, bisa menjadi pelajaran agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Sebagai hiburan, buku ini juga punya andil. Ada beberapa kisah lucu yang bisa membuatmu senyum-senyum. Tapi selera humor tiap orang tentu beda, bisa jadi kamu malah tertawa terpingkal-pingkal saat baca buku ini! Dan jika kau tak merasakan apapun, nggak ketawa, dan muka datar, itu juga karena selera humormu yang berbeda dengan penulis.

Selain semua kelebihannya, ada hal yang kurang aku suka dari buku ini. Aku punya anggapan bahwa bahasa buku dan bahasa blog itu berbeda. Dalam blog atau sosial media, kita bisa menulis dengan kaidah sesuka kita, namun pada buku, ada kalimat-kalimat yang bisa diadaptasikan, agar menjadi bahasa buku yang nyaman dibaca. Dalam blog, kita bisa menulis dg tanda baca sebanyak yang kita suka, namun pada buku, perlu ada penyesuaian. Nah, dalam buku ini, kalimat2nya masih dituliskan dengan bahasa blog. Menurutku, kurang ada penyesuaian dg bahasa buku. Bukankah sesungguhnya pembaca bisa membaca tanda baca? Tanda baca berlebihan, untuk sebagian pembaca terasa mengganggu, contoh: "Apaaaa???" --> bagiku menggunakan tanda berlebihan agak mengganggu.

Masukan untuk mbak Agya, mungkin bisa diperhatikan lagi penulisan kalimatnya, agar lebih berbahasa buku dan lebih nyaman dibaca. Tapi tentu saja ini opiniku, jika menurut penulisnya atau penggemar buku ini nggak masalah, tentu aku juga nggak masalah. Hanya saja, aku belum nyaman membacanya. :)

Satu lagi, saran saya, mbak Agya menimbang2 lagi jika akan memasukkan postingan blog untuk dibukukan. Misal, masukan postingan yang bakal bermanfaat, menghibur, dan 'ngaruh' ke pembaca aja. Karena yang aku rasakan, masih ada bahasan dalam buku ini yang membuat aku berpikir, "So what? Buat apa aku tahu ini?". Contohnya adalah saat mbak Agya membeberkan jadwal kuliahnya. Ya, afwan, sorry, maaf. Diriku sempat berpikir, "Terus kenapa dengan jadwal kuliah mbak? Kenapa sy perlu tahu?". Yah.. begitulah kurang lebih.

.................

Wait, aku jd subyektif lagi. -_-a

................

Lanjut aja!

Terlepas dari kekurangannya, buku ini penuh kisah lucu, motivasi, pelajaran, dan pesan-pesan bijak dari mbak Agya. Buku ini juga dilengkapi banyak ilustrasi dan warna manis yang akan membuatmu betah membacanya. Jika kamu suka buku dengan sentuhan humor tp berhikmah seperti genre Raditya Dika, buku ini bakalan cocok untukmu. Recommended!

Semoga next booknya mbak Agya bisa lebih asik! Semangat! ^_^
Mbak Agya keren tapi, udah bikin buku, sedang aku belum. T-T
Okey, Semangat! *ketularan semangat mbak Agya*

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Kau Bebaskan Aku Tanpa Syarat

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Maret 01, 2014 4 komentar
"Hmmm..." Aku menghela napas lagi. Hei, ini sudah kali keberapa?

Burung Cangak terbang di langit Yogyakarta, kembali ke rumah. Semburat oranye menegaskan bahwa ini waktunya bulan untuk menampakkan diri. Aku masih menyelonjorkan kaki di rerumputan. Sendiri.
Ini sudah langit keberapa yang kupandang hari ini? Ah, langit kan hanya satu. Aku saja yang melihatnya berulang, dari tempat yang berbeda. Ini kali kedua aku duduk berselonjor di rerumputan ini, memandang langit. Langit yang samakah seperti yang kau pandang? Entahlah. Mungkin kau bahkan tak berniat untuk menatap langit. Kau sibuk.

Tapi ini kali kesekianku memandang langit, dan kali keduaku memandangnya dari sini. Wajahmu masih terpampang di awan-awan. Awan selalu berubah, tapi bayangmu tidak.

Memikirkan bahwa diriku menjadi melow karenamu, itu sangat luar biasa. Ini kali pertama. Kau, yang membuat aku jatuh cinta, sekaligus patah hati. Kau yang memberiku pelajaran, bahwa mencintai tak harus memiliki.

Aku ikhlas. Aku ikhlaskan hatiku melihatmu bersamanya.

"Haaahh..."

Kurebahkan punggungku. Hari semakin gelap dan suara cangak semakin kencang. Mengatur posisi tidur, mungkin. Nyamuk-nyamuk mulai menggerayangiku. Kubiarkan saja. Di tanganku masih ada bukumu. Buku yang kau berikan padaku. Bukan karena atensi apapun. Hanya karena kau harus mengganti bukuku yang hilang. Hanya itu.

Untukku itu berharga. Kupeluk buku itu erat-erat. Maafkan aku karena berdelusi tentangmu. Biarkan aku memainkan skenario di kepalaku. Skenario yang menyenangkan hatiku. Biarkan aku bermimpi tentangmu, karena di dunia nyataku tak ada 'kamu untukku'. Walau kau tak tahu rasaku, izinkan aku tetap berusaha mengirimkannya. Lewat desiran sang bayu, dan awan yang berbentuk sembilu.

Aku ingin jujur. Aku mencintaimu. Dan masih akan begitu. Aku tak akan memaksa cinta itu pergi. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, aku mengikhlaskanmu. Aku siap melihatmu bersamanya, menggandengnya, mencintainya. Aku melepaskanmu.

Aku mencintaimu tanpa syarat. Kau tak perlu menjadi kekasihku untuk mendapat cintaku.
Aku mengagumimu dengan kebebasan. Karena dengan begitu aku pun bebas.
Aku tersenyum. Lega dalam hati tak terperi. Sudah kutemukan makna cintaku.

"Aku mencintaimu tanpa syarat"

kubisikkan sekali lagi. Lalu semua serasa sunyi. Cangak yang terdiam, angin semilir, nyamuk yang berdengung, pasti ikut mendoakan kebebasanku. Kupejamkan mata, mencipta sosokmu dalam ingatan. Kau adalah cinta. Izinkan aku mencintaimu tanpa syarat.

Kupeluk bukumu semakin erat.

Yogyakarta, 27 Februari 2014

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Rabu, 26 Februari 2014

Film Favorit nan Keren!

Diposting oleh Camelia di Rabu, Februari 26, 2014 0 komentar
Alohaaaa~
Setelah memenuhi target 21 hari menulis postingan tiap hari, aku jadi jarang nulis lagi. Terakhir cerpen Sembilu seminggu yang lalu. Okeh, akan aku mulai lagi. :)
Ada banyak masukan aku musti nulis apa. Ada yang usul pengelaman ngerjain skripsi, ada yang usul bikin resensi film, atau cerita jalan-jalan.

Pengen sih menuliskan semuanya, tapi perjalanan skripsiku sedang agak suram, dan aku nggak pingin menebar kesuraman *kecuali jk nanti berubah pikiran*. Jalan-jalan, aku lagi nggak melakukannya cukup lama. Cuma jalan ke toko buku ata karaokean doang. Oke, mungkin aku bakal membahas film aja ya..

Kalian punya film favorit? Pasti punya. Mungin sebagian cuma sekedar suka, sebagian lagi memang 'memfavoritkan' dan bisa jadi inspirasi. Aku juga punya. Sedikit berbagi aja sebelum bikin ulasan lebih lanjut di postingan lain.

Film keren yang jadi favoritku, biasanya heartbreaking dan heartwarming di waktu yang bersamaan, antara lain:
1. Hugo --> ini film masih tergolong film masa kini, tapi berhasil memikatku dengan sangat. Alhasil, dia jadi film terfavoritku saat ini. Setelah nonton film ini, rasanya perasaanku masih ketinggalan di dalam adegan2 film tersebut. Film yang membuatku sadar, romantis tidak selalu tentang percintaan sejoli. Karena cinta itu ada di mana-mana. Manis, romantis.
2. Unconditional --> Film manis banget dan romantis. Film yang bisa memberimu courage untuk percaya pada cinta. Percaya bahwa ada cukup cinta di dunia ini untuk diberikan pada semua orang. Film ini membuatku teringat pada Ibu Tetsuko Kuroyanagi, yang pernah bilang bahwa semua anak butuh cinta. Bahkan ketika mereka kehabisan air mata untuk menangis. Semua orang berhak dicintai.
3. Stuck In Love --> Hangat, sedih, bahagia. Film yang cantik tentang Family and Love. Mungkin karena sesuai dengan kondisiku sekarang, film ini bikin teriris, tersindir, dan hangat dalam waktu bersamaan. Banyak yang bisa kupelajari dalam film ini. Bahwa kita pun bisa saja tersesat dalam hidup. Semoga siapapun pangeranku kelak, adalah yang bersedia menantiku, mengusahakanku, dan memelukku kembali, bahkan setelah aku tersesat. Tersesat dalam apapun.
4. Mary and Max --> Cerita tentan persahabatan seorang anak dan lelaki dewasa pengidap Sindrom Asperger. Menarik karena merupakan film animasi pertama yang mengangkat kelainan psikologi. Setidaknya itu yang aku tahu. Sedih dan hangat. Rasanya pengen meluk Max pas endingnya. Dia bilang, "You're my best friend. You're my only friend."
5. Coraline --> film animasi yang aku tonton sampai berkali-kali. Sampai aku lupa berapa kali. Film ini memadukan horor, dongeng, dan dunia anak. Creepy but simple. Tipikal cerita Neil Gaimann. Always be may fav movie. Sampai aku inget dialog2nya dan latihan dubbing pake film ini.

Selain kelima film itu, masih banyak film-film keren yang aku suka. Sukaaaa banget! XD seperti Beautiful Mind, filmnya Helen Keller, Tare Zamen Par, dll.

Film ttg anak-anak, psikologi, horor, dongeng, dan semua romansa selalu dapat memikat hatiku. :3
Selamat nonton! Insyaallah aku bikin ulasan lebih dalem di postingan lain ttg film2 tersebut. Makasiih~ >0<

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Sabtu, 22 Februari 2014

Sembilu

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Februari 22, 2014 7 komentar
Alisra tak bisa berhenti berair mata. Semakin ia sadar, semakin deras air itu mengalir. Matanya semakin memerah. 
"Aku gemetaran. Aku kedinginan." Ucapnya di telepon. Dia bertelepon dengan lautan. Dengan suara di seberang lautan. Hanya ada sunyi yang menjawabnya. Yang terdengar hanya isak tangis. Isak tangis miliknya sendiri.
"Maukah kau mendengarku menangis?" Tanyanya lagi. Tangisnya semakin kencang.
"....."
“Hey, maukah kau dengar aku menangis?” Isak Alisra semakin menjadi.
"Iya, aku mendengarmu." Jawab sebuah suara di seberang lautan.
Lalu sunyi kembali.
"Aku tak pernah tahu akan sesakit ini. Aku tak pernah tahu. Selama ini sungguh yang aku lakukan sia-sia. Rasanya aku begitu dungu. Aku tak pernah menangis seperti ini. Aku telah alpa. Aku menggantungkan harapanku pada manusia." Suara Alisra bergetar.
"Tidak ada yang sia-sia, Alisra. Semua adalah bahan belajar. Ingatkah kau saat kau berkata padaku bahwa kau ingin merasakannya? Merasakan jatuh dan patah?" Suara di seberang lautan terdengar jumawa.
Isak Alisra semakin deras. Bahunya berguncang. Kuku jarinya nampak pucat. Ia kembali menggigil.
“Kau benar. Aku tak seharusnya bermain-main dengan kataku. Bukankah kata itu doa?” Alisra mendakwa dirinya.
“.....”
“Aku hanya tak tahu akan sebegini sakit. Rasanya sakit.” Alisra terbata. Sesekali ia mengusap matanya.
"Alisra, kau hanya sedang terkejut. Kau belum pernah merasakannya. Itu wajar." Jawab Suara di seberang lautan sambil tersenyum. Suara senyum.
Alisra berkata, "Aku salah. Motivasiku salah. Seharusnya aku tak melakukan ini pada diriku. Aku malu." Lalu sambungnya, "Seharusnya aku tahu siapa yang seharusnya aku cinta. Aku merasa bodoh. Betapa menyedihkan aku menangis karena roman picisan."
“Kau tahu?” Kata Alisra kemudian. “Aku merasa seperti pemain drama. Hahaha...pemain drama roman sedih. Pun setelah ini, aku akan banyak bersandiwara.” Sambungnya sambil tertawa. Ironi.
“Hanya saja, sandiwara yang akan kumainkan nanti akan menyakitkan sekali.” Roman wajahnya kembali muram.
"Alisra, kapan kau akan sadar bahwa pelajaran inipun bukti cintaNya? Mungkin Ia menunjukkan padamu bahwa yang kau cinta itu bukan jodoh yang tepat. Bukan seseorang yang diinginkanNya menjadi jodohmu." Suara di seberang lautan terdengar tegas, menyejukkan.
"Seperti kataku, kau hanya laiknya anak kecil yang terjatuh. Ia akan menangis pada awalnya, karena sebelumnya ia tak pernah merasakan sakit itu. Namun, ia belajar. Jika nanti ia terjatuh kembali, ia tak akan menciptakan tangis yang sama. Ia belajar. Belajar untuk sakit. Begitulah juga kau. Kau hanya terkejut." Lama-lama seperti mantera, suara di seberang lautan terus berdesir.
"Tapi sakit. Rasanya dingin." Tangis Alisra mereda, diganti isak putus-putus. Badannya bergetar.
"Tentu saja sakit. Kau sudah jatuh, patah pula."
“.....”
 Suara di seberang lautan kembali bertanya,
"Namun apakah jatuhnya seorang anak kecil membuatnya takut berjalan?"
Alisra terhenyak. Ia menyadari jawaban 'tidak' atas pertanyaan itu. Suara di seberang lautan sadar bahwa Alisra telah paham.
“Alisra... ” Suara di seberang lautan mengurungkan katanya.
“.....”  
Alisra berpikir. Suara di seberang lautan memberinya waktu.
Gesekan daun beringin terdengar gemerisik. Angin bertiup lebih kencang dari kemarin. Suara jangkrik semakin menjadi. Agaknya merekapun tak tahan dengan sunyi. Mereka menunggu sunyi menjadi bunyi.
Alisra bergeming. Dihelanya napas dalam-dalam.
“Kau kembali menghela, Alisra. Tidakkah kau hitung berapa banyak kau menghela?” Suara di seberang lautan memecah sunyi.
“Kau menghitungnya?” Sunyi Alisra terbelah.
“Tentu saja tidak. Kau tak memberiku imbalan setimpal untuk itu.” Suara di seberang lautan bermaksud mencandai.
“Baiklah, sepertinya kau sedang lupa cara bercanda saat ini. Aku tak memaksa.” Suara di seberang lautan berkata cepat.
“Tapi aku yakin kau akan baik-baik saja.” Suara di seberang lautan menegaskan.
“.....”
 Alisra masih berpikir. Menafsirkan rasa. Suara di seberang lautan kembali memberinya waktu.
“Aku tak tahu bagaimana harus bersikap setelah ini. Membayangkan diriku menatap mereka bersanding, sepertinya akan lebih sakit.” Alisra sedikit meratap.
Dengan sabar Suara di seberang lautan berkata, “Alisra, dengarkan aku. Kau akan baik-baik saja. Jadi, teruslah engkau berjalan. Namun janganlah berjalan terlalu cepat. Dengan begitu kau tak akan terjatuh dengan cara yang sama. Tak selamanya jatuh itu sakit. Maka berdoalah banyak-banyak agar kau bisa merasakan jatuh tanpa harus merasa sakit." Lagi-lagi, suara di seberang lautan terdengar bersenyum.
Suara hangat terasa menyelimuti. Air mata Alisra sudah hilang sama sekali. Ia hanya masih menghela napas. Menenangkan hati.
"Akupun paham, kau telah sadar, Alisra. Sehingga kau tahu bagaimana harus menjalani hidup setelah ini. Aku layangkan doa untukmu banyak-banyak. Agar ketika kau diberi jatuh lagi olehNya, kau telah siap, kau tak akan patah. Kau jatuh tanpa sakit. Hingga ketika kau berdiri, aku masih bisa melihat senyummu." Suara di seberang lautan memandang arif.
"Hingga tiba seseorang yang Tuhan utuskan untuk menjadi imammu, menjadi Ia Yang Meraih Tanganmu ketika kau jatuh tanpa sakit. Ia yang merapihkan rambut di balik jilbabmu.” Suara di seberang lautan memberi jarak pada katanya.
“Aku ingin kau mengamini doaku, Alisra." Suara di seberang lautan menggema.
Lalu, satu helaan napas, dan Alisra tersenyum. Tersenyum untuk segala jatuhnya, tersenyum untuk segala patahnya, tersenyum atas doa untuknya, dan tersenyum karena ia masih memiliki Suara di seberang lautan yang sudi merengkuhnya. Ia mengucap terimakasih dalam hati.
Telepon ditutupnya.
Suara jangkrik di peraduan menemani terkembangnya senyum Alisra.
Hatinya masih serupa lukisan yang terkoyak. Namun ia tetap tersenyum.
Senyum kelegaan.
Senyum Alisra semakin lebar.

======================================================

Ia meletakkan gagang telepon. Tampak senyum tertahan di bibirnya. Matanya, tak hanya memancarkan kelegaan, namun juga penyesalan. Menyesal karena merasa bahagia. Merasa bahwa bahagianya tidak seharusnya ia tampakkan.
Pantaskah aku merasa senang ketika ia begitu berduka? Ia bertanya pada dirinya.
Namun sungguh, ia tak dapat menyimpannya. Terbungkus rasa bersalah karena bahagia di atas derita orang lain, ia bersuka cita. Maka hanya matanya yang tersenyum, bibirnya tidak.  Hatinya masih merasa sungkan.
Ia mencatat sesuatu pada buku kusam yang selalu dibawanya. Dengan mata tetap tersenyum, ia menuliskan,
“Ternyata Tuhan masih memberiku kesempatan, lewat patah hatimu, lewat air matamu. Hingga aku bisa memelukmu dengan suaraku. Maafkan aku karena bahagia atas sedihmu, Alisra. Tuhan yang memberikan petunjuk padaku lewat dering telepon darimu, di pagi buta. Tuhan memintaku merengkuhmu. Memelukmu. Izinkan aku mencobanya. Membantumu jatuh tanpa harus patah. Terimakasih atas sedihmu.”
Ia menutup buku itu dengan senyuman. Kini tak hanya dalam matanya, namun juga bibirnya. Senyum dari sebuah bibir, sepasang mata, dan satu hati di seberang lautan.
Dan angin pun berdesir.

Yogyakarta, 22 Februari 2014



Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Ternyata Saya Masih Ekstrovert

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Februari 22, 2014 1 komentar
Baru saja aku buat postingan ttg diriku sebagai Ambivert, ternyata itu tidak sepenuhnya benar! XD
Aku sebutkan di postingan sebelumnya, bahwa dlm tes singkat, aku Ambivert. Namun setelah ambil tes yang lebih valid *maybe*, jawaban yang aku dapat adalah:

"You’re an Extrovert with some Ambivert functions."

Yeeey! Keinginanku terkabul, ternyata aku memang ekstrovert, pantas aku kurang puas dg jawaban ambivert. Hanya saja, aku punya kecenderungan ambivert, :3
Aku ambil test di sini: http://lonerwolf.com/introvert-or-extrovert-test/
Hasilnya: 
You have reached 71 of 100 points, (71%)
Introvert or Extrovert: Test Yourself With Our Personality Quiz

If you score was between:
0 – 20 points  : You’re predominantly an Introvert.
20 – 40 points : You’re an Introvert with some Ambivert functions.
40 – 60 points : You’re an Ambivert.
60 – 80 points : You’re an Extrovert with some Ambivert functions.
80 – 100 points : You’re predominantly an Extrovert.
Jadi, bisa dibilang, sy ini:
Ambivert dg dominan ekstrovert atau spt yg dibilang td, ekstovert dg tanda2 ambivert. :D
Alhamdulillah~

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/

Jumat, 21 Februari 2014

Are You an Extrovert or Introvert? I'm Both of Them!

Diposting oleh Camelia di Jumat, Februari 21, 2014 0 komentar
Beberapa hari ini aku dibingungkan oleh siapakah diriku. Ambil tes sana-sini, 3 kali dapet Ekstrovert dan 1 kali dapet Introvert.

Mencocokkan diri, apakah aku benar introvert seperti yang kusangka selama ini? Ataukah sebenarnya aku introvert yang menolak jd ekstrovert? Berkali-kali mencoba menyocokkan dengan ciri keduanya, aku tambah bingung. Hingga malam ini jelaslah semua #eaa.. setelah diskusi sampe pagi sma temen kos sambil searching, satu hal yang kudapat.

I'M AN AMBIVERT!

Do you know what ambivert is? Check this out! ;)
You're an ambivert. That means you're neither strongly introverted nor strongly extraverted. Recent research by Adam Grant of the University of Pennsylvania's Wharton School of Management has found that ambiverts make the best salespeople. Ambiverts tend to be adept at the quality of attunement. They know when to push and when to hold back, when to speak up and when to shut up. So don't fall for the myth of the extraverted sales star. Just keep being your ambiverted self. 
*ini setelah aku ambil test di sini
Kebingunganku selama ini terjawab. I'm neither only extrovert or introvert, i'm both ot them. In the middle.
Dijelasin juga bahwa tak ada org yang hanya introvert atau ekstrovert aja. Kalo kata Carl J. Jung kya gini:
There is no such thing as a pure introvert or extrovert. Such a person would be in the lunatic asylum. --Carl G. Jung
yang ada hanya orang yang dominan ekstrovert atau introvert. Hanya jumlah persen yang memisahkan kita~ #ciyeehh

Mungkin ini kelebihan yang Allah berikan. Membuatku lebih adaptif. Bisa memilih kapan aku harus menggunakan kedua senjataku, ekstrovertness dan introvertness. Senjata yang akan luar biasa berguna saat bisa menggunakannya dengan tepat.

Sebenernya aku pengen dominan ekstrovert aja, biar jelas. Tapi aku butuh jd introvert. :3 In the middle is not that bad thou~ Tapi kemungkinan sisi ekstrovertku lebih tinggi dr introvert. Hanya saja masih dalam taraf ambivert. Oke, saya sudah cukup puas dengan hasil ini.

Nah, apa bedanya Ambivert dengan Ekstrovert dan Introvert?

Seorang Ambivert, sangat menikmati kumpul bareng orang2, pesta, ketemu komunitas, kenalan baru. They do love crowd, but after long time it will drain them. Also, they do love alone, but not too long. Jadi intinya, seorang ambivert musti nge-mix antara berkumpul dg orang2 dan menyendiri.

Saat lagi bosan, aku akan berkumpul dengan teman2 yg kusuka, hangout, atau hanya jalan2 sendiri beli buku. Atau keliling rental komik sambil numpang baca. Bisa juga aku hanya di kamar baca buku dan tiduran. Mungkin buatku, yang paling asik adalah 'menyendiri berjamaah', jadi berangkat bareng, trus menikmati kesendirian masing2, abis itu pulang bareng lagi. #apaaan? contoh pas ke perpus, :3
Nah, katanya orang ambivert ini paling bagus untuk ngurusin 'sales'. Karena dia lebih tahu kapan musti koar2 macam ekstrovert, dan kapan musti mendem kayak org introvert. :3

Mengenal diri sendiri itu such a wonderful feeling, apalagi setelah penasaran lama dan terkatung-katung. Ok, Semangat for what ever you are! XD

Ps. Ralat: Ternyata, aku masih introvert. >0< (baca lebih lengkapnya di sini --> http://bungarumputku.blogspot.com/2014/02/ternyata-saya-masih-ekstrovert.html)

sumber belajarku:
http://www.danpink.com/assessment/
http://www.fastcompany.com/3016031/leadership-now/are-you-an-introvert-or-an-extrovert-and-what-it-means-for-your-career

Selamat membaca dan Happy blogging! \(^0^)/
 

Bunga Rumput Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei