Senin, 06 Mei 2013

MAS JOKO

Diposting oleh Camelia di Senin, Mei 06, 2013 0 komentar

Aku duduk sendiri di kantin sambil membaca serial One Piece no 25. Entah sudah berapa kali aku mengulang baca komik-komik One Piece-ku yang Cuma 25 buah.
“Suaramu tadi lumayan juga, Ris!” teriak Dita sambil menghampiri dan merangkulku.
“Aish.. bilang aja mau ngejek. Ga usah basa basi, lagi!” cibirku.
“Makanya, jangan telat lagi, lagian ngapain juga kamu nongol? Biasanya kalo telat kamu bolos, kan? Tapi serius, suara kamu nggak malu-maluin kok. Jadi pengen denger lagi.”
“makasih deh, pujiannya…  berarti besok gue telat lagi aja, ya?” timpalku bercanda. Atau bakal beneran? (jangan lagi deh!)
“Hahaha, iya! Ide bagus, tuh!” Yuri ketawa ngakak. “Sip, sip.. gue tunggu deh pokoknya penampilan selanjutnya.”
Seorang pria lewat di depan kami. Stylenya asik banget! Rambut gondrong sampai tengah leher, hampir menyentuh bahu, sih. Jamnya gede, rambutnya dikuncir kayak samurai, kaosnya item pake rompi jeans. Thumb up! Tapi kayaknya aku jarang lihat pria itu, kakak angkatan kah?
Dita, pernah liat tu cowok nggak? Yang barusan lewat.” Tanyaku padanya.
“Yang mana? Oh.. yang dikuncir? Dia kan Kak Joko, sekelas sama kita juga tau kalau kelas Biokimia. Tapi dia kakak angkatan, ngulang kayaknya
“Ehh..! Masa? Kok aku nggak tau?!” sergahku kaget.
Sambil memasang muka ‘of course’ Dita bilang, “Yah… secara dia sejenis sama kamu, tukang telat, tukang bolos! Pas dia masuk, kamu nggak masuk kali. Emang kenapa? Jangan-jangan! Kamu tertarik padanya, ya?!”
“Yee, ngomong sembarangan! Nggak mungkin banget!“
“Halah, salting!” Yuri cengengesan sambil memukul kepalaku pelan.

********************************

Kulihat dia kebingungan melihat bungkusan kecil berpita ada di dalam tasnya. Tentu saja! Baru ditinggal sebentar ke kamar kecil, balik-balik bungkusan itu sudah ada.
“Risma, kamu tahu siapa yang memasukkan kotak ini di tasku?” tanyanya padaku.
“Nggak, Kak. Mungkin emang udah ada dari tadi sebelum kamu dateng ke basecamp. Dahinya mengernyit agak lama, lalu mengangkat kedua bahu. Lalu berpamitan pulang. tak lama setelah itu, aku pulang juga setelah mengunci pintu sekretariat MAPALA. Dita sudah menantiku.

********************************

47 detik lagi. Lagi-lagi bertemu lampu merah. Seorang remaja mendatangiku meminta-minta. Kuberikan isyarat tidak. “Ayolah, mbak.. buat makan.. lima ratus aja nggak apa-apa, mbak..” ia merengek. Aku hanya memasang senyum seraya memberikan isyarat tidak.  ia pun berlalu mendatangi pengendara motor yang lain, melakukan hal serupa. Aku benci pengemis. Terutama yang masih muda dan kuat.  Mengemis itu adalah pekerjaan pemalas. Hanya meminta, apa susahnya?
“Tiiin.. ttiinn..” klakson mobil belakang membuyarkan lamunanku. Sudah lampu hijau. Kujalankan motorku.
Kutepikan motorku di depan warung tenda pinggir jalan. Lapar, belum makan lagi sejak sarapan.
“Pecel lele satu, mas!” pesanku pada mas-mas penjaga kasir.
“Oke, mbak. Joko, pecel lele satu!”
“Sip!”
Eeeengg..  sepertinya suara itu tidak asing. Kulongokkan kepalaku memandang sosok yang membelakangiku. Sepertinya benar itu dia. Tapi, masa’ di sini? Menghilang satu semester dari kampus dan dia ternyata ada di sini? Dia bekerja? Tubuhnya terlihat lebih kurus dari tiga bulan lalu, terakhir aku melihatnya. Rambutnya bertambah panjang sebahu, dikuncir ke atas.
Deg! Dia berbalik. Benar! Itu benar-benar dia. Sontak aku berdiri. Pengunjung lain memandangiku. Mas penjaga kasir juga memandangku heran. Aku pura-pura membenarkan baju karena malu. Ah, aku lepas kendali. Siapa suruh dia menghilang selama itu. Apa tadi dia melihatku? Apa dia menyadari kehadiranku? Sesekali kulihat punggungnya sibuk meracik bumbu dibantu Mas penjaga kasir. Aku tak berani menyapanya. Takut salah tingkah. Mereka mengobrol. Apa yang mereka obrolkan? Ah, nggak terdengar. Aku berdalih mengambil kerupuk di meja yang paling dekat dengan meja kasir, agar bisa mendengar obrolan mereka. Sempat kulirik Mas Joko. Eh, tunggu. Itu jam dariku! Dia masih memakainya. Aku puas, walau kutahu dia tak tahu aku pengirimnya.
“Tapi jadinya kamu tetap menerima hal itu, kan?” tanya Mas penjaga kasir.
“Iya, tidak terlalu buruk.” Jawab mas Joko.
“Istrimu diboyong ke Jogja juga?”
“Iya.”
 Iya?
Dan akupun semakin menyadari. Ternyata memang untuk selamanya aku hanya bisa  menjadi penggemar.

-0-

Belajar Maskeran

Diposting oleh Camelia di Senin, Mei 06, 2013 0 komentar
Dulu aku pernah nyobain pake masker garnier yang biru. Iseng-iseng. Sebelumnya pernah nyoba pake peel-off mask yang kuning. Peel-off mask. Pertama coba, gagal pake! Ternyata makenya g kaya yang kuning. Alhasil, maskernya g kering2, nggak bisa diklethek dan aku bete banget. L
garnier-mask self heating
Kenapa nggak kering ya.. padahal udah lama bget. Terus aku tipisin lagi maskernya, tetep aja g kering2. Sebel banget. Ya udah, aku bilas aja langsung. Eng ing eng.. wow, mukaku jadi bersih banget. *0*

garnier-mask peel-off
Puas banget sama hasilnya. Akhirnya rasa bete dan jengkel ilang seketika, berubah jadi seneng. =D
yah.. walau cara makenya salah, hasilnya tetep bisa dirasain kok. Beda sama garnier mask peel-off yang kuning, masker ini nggak bening. Teksturnya kaya masker pasta biasa. Warnanya biru muda. Karena ini masker heating sauna, pas dipake rasanya anget2 gitu. Tapi hasilnya memuaskan. Pokoknya seneng. 

dan beberapa hari kemudian, adekku bilang. "Mbak, mbak, kemaren tu yang kita pake emang bukan masker peel-off. self-heating sauna itu emg cm masker biasa. yo panteslah ditunggu berjam-jam nggak kering." bwahahahaha... ternyata akunya yg nggak teliti baca deskripsi. dan bener juga, di bungkusnya nggak ada keterangan itu masker peel-off! -__-'
seenaknya aja aku menganggap itu masker peel off dan marah-marah gara-gara ngerasa gagal. haha.. 
ceroboh, sih.. #masih senyum2 sendiri.


Silahkan mencoba ^^

Sabtu, 04 Mei 2013

Malam ajaib

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Mei 04, 2013 0 komentar
Malam yang indah
bintang berbincang tentang hujan sore ini
bulan remang
bersembunyi malu-malu
berbisik tentang kabar gembira

Malam.
isyarat kesempurnaan
keajaiban ciptaan

Gila

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Mei 04, 2013 0 komentar
Aku memelihara hamster
kujadikan avatar
...................................

Gila benar!
uangku berkurang makin hari
agaknya ada tuyul di sini

Esok hari,
kulihat hamsterku kekenyangan
giginya masih mengapit erat,
menggigit kepala Seokarno

Malam Itu Hujan Turun

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Mei 04, 2013 0 komentar

Aku menuju tempatnya. Diantara sekian banyak malam, kenapa malam ini ? kukencangkan laju Satria-ku. Jalanan Jogja tetap terlihat ramai. Kulirik arloji di tangan kiriku, pukul 21.15

Mendung masih menggantung di langit. Setelah menumpahkan air seharian, masih belum cukup menghabiskan cadangan rupanya. Semoga tidak hujan. Nanti saja jika aku sudah selesai dengannya. Kumohon..

Sekali lagi kusesalkan, kenapa malam ini ? bukankah lebih baik ketika hari cerah ? setidaknya ada bintang. Bukan malam muram begini.

“Kamu bisa datang? Tolong, ya…” seperti biasa, suaranya di telepon selalu terdengar lebih lembut dan rapuh. Dan seperti biasa, aku tak dapat menolaknya. Yang bisa kulakukan adalah secepatnya mengeluarkan Satria-ku dari garasi dan memacunya secepat yang kubisa.

Lima belas menit perjalanan, dan aku sudah berdiri di depan rumah berdinding merah muda. Kulihat dia duduk di teras rumah. Sendiri. Menatap lurus ke depan.
“Aku sudah datang.” 
“Ah, kau.. cepatnya! Duduklah ! mau kubuatkan cokelat panas ?” Dia berdiri.
“ Tak usah, duduklah saja.. aku ke sini bukan untuk minum cokelat.”
“Ah, kau.. masih seperti biasanya.” katanya. Ia kembali duduk. Aku duduk di sampingnya. Mata itu. Selalu penuh mendung. Selalu penuh. Aku tak bisa menatap mata itu terlalu lama.
“Jadi, ada apa ?” Tanyaku. Pertanyaan sama yang berkali-kali kutanyakan padanya dan dia tak pernah menjawabnya. Ah, tidak.. dia menjawabnya. Selalu sama.
“Tak ada apa-apa, cuma ingin kamu bersamaku malam ini.”
Jika sudah begini, mau bagaimana lagi ? aku hanya duduk.
“Ah, komikku belum kau kembalikan, kan? Tadi koleksiku masih kurang tiga. Ayo kembalikan!” dia tersenyum. Tak menatapku. Tentu saja.
“Iya. Udah deh.. buat aku aja. Lagian kamu dah nggak baca lagi, kan?”
“Nggak mau! Aku susah payah ngumpulin, tau!” Jawabnya sambil merengut.
“Iya, deh.. bentar lagi.”
“Hahaha.. kamu itu, selalu aja gitu..” Dia tertawa. Lalu menghela napas.
“Malam ini indah , ya..” katanya.
“iya.”
“Aku selalu suka malam. Apalagi malam setelah hujan. Bau tanah, jalan yang bersih, udara yang sejuk…”
“Tapi dingin.” Potongku.
“Tapi nyaman.. “ Dia tersenyum. Aku tak bisa membantahnya. Diam.
Sialan! Hujan turun lagi.

Wajahnya.. Aku tak bisa menatap wajahnya jika hujan turun. Wajahnya, senyumnya, lesung pipitnya, aku tak bisa melihat itu semua. Dia terdiam. Aku terdiam. Lama.
********************************************************************

Dia gadis berkacamata. Manis. Setiap sabtu selalu membeli komik bersama kekasihnya. Seperti malam ini. Dia mengunjungi toko buku ini. Lagi-lagi membeli komik. Kekasihnya tak tampan menurutku. Masih lebih tampan aku. Ah, dia tersenyum lagi. Tertawa. Manisnya.

“Mas !” Ah, dia memanggilku.
“Komik ini yang terbaru di sebelah mana? Kok di barisan komik baru nggak ada?”
“Oh, sebentar saya carikan di katalog dulu ya, mbak..”
Haha.. mana mungkin aku tak tahu komik itu. Aku hanya mengulur waktu. Dia sepertinya tak acuh, masih ngobrol ceria dengan kekasihnya. Sepertinya kekasihnya lelaki yang baik. Walau benci untuk mengakuinya. Mereka memang benar-benar cocok. Dammit! Seandainya aku ada di posisi itu. Sialnya, walau aku lebih tampan dari dia, berusaha tampil keren tiap shift hari Sabtu, gadis itu tetap tak melirikku. Hah, siapa aku ? Gadis kasmaran itu tak mungkin melihat lelaki lain selain kekasihnya.
“Wah, stoknya habis, mbak. Mungkin beberapa hari lagi baru restock dari cabang lain. Mohon maaf..“ Kataku sambil menatap matanya.
“Yah…” Dia kecewa, muka cemberutnya itu manis sekali. Ouh!
“Ya sudah, makasih ya, mas.. “ Ekspresinya berubah, ramah. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
********************************************************************

“Aku suka malam. sangat suka. malam itu.. indah.. “ Katanya suatu ketika.

“Entah sejak kapan aku suka malam. Malam itu indah dengan segala gemerlap lampunya. Palsu memang, tapi indah. Orang bilang malam itu menyeramkan, apalagi tengah malam. Tapi aku selalu bilang, malam itu indah. Kenapa, ya? Haha.. padahal sebagian besar yang ada pada malam itu dusta. Anak gadis terlihat lebih cantik di malam hari. Warna baju terlihat lebih indah, air mata dan sipu malu tak jelas terlihat. Tapi dari segala kedustaannya, malam menyimpan kepolosan. Kepolosan yang tak bisa kudeskripsikan. Kepolosan dalam lampu jalanan, kepolosan dalam senyum di tepi jalan, kepolosan dari angin yang berhembus, bintang yang berkilau dan kepolosan dalam udara basah.” Dia terus bicara, aku hanya diam.

”Ah, ada lagi yang kusuka dari malam. Suara jangkrik, katak dan hewan malam lain membuatku tak merasa kesepian. Lain dengan siang. Semua terlihat jelas saat siang, sehingga orang menyembunyikan perasaannya. Malam hari, membuat orang terluka berani menangis.. walau hal ini nggak berlaku pada semua orang. Sekali lagi, malam itu cantik.” Dia tersenyum. Melanjutkan bicara. Aku masih diam.

Dia ambil helaan napas, “Aku mencintai malam.”

Kalau sudah begini aku bingung harus merespon apa? Jadi aku tetap diam.
Dia diam.
“Tak terasa kita sudah sedekat ini, ya..” Aku memecah keheningan.
“Iya, kau sahabat terbaikku.” Dia tersenyum, menatapku. Entah mengapa hatiku sakit sekali.

Hujan turun.
Sore yang muram.
Tapi tentu tidak untuknya. Lihat, dia tersenyum menatap hujan. Dia beranjak. Aku hanya menatap tubuhnya berjalan mendekati hujan. Sedikit demi sedikit bajunya basah. Sore ini jalanan depan rumahnya cukup lengang. Ia berdiri di trotoar, menghadap langit. Matanya terpejam. Dia masih tersenyum. Senyum yang selalu sama. Kamu belum bisa tersenyum?
********************************************************************

Aku masih ingat dengan jelas. Kejadian itu terjadi di depan toko tempatku bekerja. Aku tak mungkin bisa lupa. Wajah kekasihmu, wajahmu, dan darah yang berceceran. Dari semua kenangan tentang hari itu. Wajahmu yang paling kuingat. Datar, tanpa ekspresi. Kenapa kau tak menangis? Aku tahu betapa sakitnya kehilangan orang yang kau cintai. Maaf aku tak bisa memelukmu. Aku beku. Maaf tak bisa mengusap air matamu. Karena kau tak menangis.

Kau masih diam, dengan wajah beku kau minum air mineral yang diberikan padamu. Kau duduk di tepi jalan. Memandangi kekasihmu yang kubawa ke ambulans. Kekasihmu itu pria yang baik, ya.. dia hendak melamarmu malam itu. Benar, aku menyentuh kotak cincin di saku celananya.
********************************************************************

Sore ini, aku ke tempatmu lagi.

Kau di rumah?

Pintumu rumahmu terbuka. Ah.. aku masuk saja. Menuju kamarmu. Aku akan mengagetkanmu dengan kedatanganku. Sudah terbayang bagaimana kamu kaget dan kita tertawa bersama.

Hah?!

Astaga!
“Apa yang kau lakukan?!” Teriakku.
Dia kaget sejenak. “Ah, kau.. kebetulan sekali. Aku bingung setelah ini bagaimana. Hmm.. Sepertinya mulai sekarang aku akan sering merepotkanmu.” Dia tersenyum.

Apa-apaan itu? Wajah itu, gunting itu, mata itu! Mengapa?! Mengapa kau tersenyum? Mengapa kau butakan dirimu?

Tak bisa. Aku tak bisa menahannya. Sontak aku memeluknya.

“Hei, kenapa kau menangis ?” Dia bertanya. Bodoh! Mana bisa kujawab? jika kau tak bisa menangis, biar aku yang menangis untukmu. Aku memeluknya dengan erat.
 ********************************************************************

“Tadi, kau bilang apa?” Tanyanya.
“Aku ingin melamarmu.” Kataku “Dengan cincin ini.”
“Tadinya aku mau bilang begitu..” Sambungku. “Tapi ini bukan milikku. Aku menemukannya di saku kekasihmu.” Aku menyodorkan kotak cincin merah muda.
Dia diam.
“Ambillah.. “ kuletakkan kotak itu dalam genggamannya.
“Tapi aku serius ingin jadi kekasihmu.”
Dia diam.
Aku menunggu kata yg akan diucapkannya. Sungguh menyiksa. Terasa sewindu.
“Baiklah, tapi aku tak bisa mencintaimu.”

Aku terdiam.
********************************************************************

Ternyata tak lama kemudian hujan reda.
“Kau masih belum bisa menangis?” tanyaku.
“Tentu saja, bagaimana aku bisa menangis, jika aku sudah tak punya mata ?”
“Kau juga gila sampai membutakan matamu sendiri.” Aku berujar. Pembicaraan seperti ini, sempat membuatku ngeri. Kini, rasanya sudah hambar.
“Tak apa, aku tak ingin melihat bayangan dia di setiap benda yang kulihat. Aku tak ingin terus menerus melihat kebohonganmu demi melindungi perasaanku. Dan yang jelas, aku tak perlu melihat hujan.” Dia berujar.
“Mengapa hidupmu begitu sulit?”
“Tidak sulit, aku hanya sudah tak bisa menangis. Aku mencintai malam, dia mencintai hujan, dan kau mencintaiku. Aku sedih. Aku sudah tak bisa menunjukkannya. Jadi, aku memilih tak usah melihat kesedihan. Cukup kurasakan saja. Tanpa tangisan, kesedihan dan senyuman sudah menjadi karib. Jadi kamu tak perlu khawatir.” Sekali lagi dia berujar yang tak kumengerti kecuali bagian aku mencintainya.

“Yang sulit itu hidupmu, kau menangis untukku, mencintaiku, namun aku tak pernah bisa menghapus bayang-banyang dia dariku. Kenapa kau tetap menunggu di sampingku?” Dia bertanya padaku.

“Karena kau membutuhkanku.” Jawabku.

“Haha… ngomong-ngomong, kamu sudah jarang menangis ya?”

Benar. Aku sudah jarang menangis. Ah, buat apa menangis? Kesedihan ini sudah terlampau putih, hampir transparan. “Kau masih mencintai malam, dia masih mencintai hujan, aku masih mencintaimu, dan kamu tetap buta. Semuanya tak akan berubah dengan tangisan. Yang jelas kini aku bersamamu. Yang jelas, kini aku kekasihmu. Yang penting aku datang saat kau butuh. Dan kau selalu di sini, itu sudah cukup.”

“Ya..” Timpalmu, “Nanti, jika aku sudah bisa menangis, kau mau menemaniku menangis?” Tanyanya.
“Ya.” Tak ada jawaban lain yang ada di otakku.
“Walau tanpa air mata?”
“Walau tanpa air mata.”
“Baiklah, Aku yakin kita bahagia. Ah, semoga pagi nanti matahari tidak terlalu garang..” Dia tersenyum.

Semoga, ketika pagi datang.. aku sudah selangkah menuju tempatmu. Merasakan apa yang kau rasa. Menangis bersama, walau tanpa air mata.
Dan hujanpun kembali turun.

Yogyakarta, 28 Februari 2013

Mug Kesayangan?

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Mei 04, 2013 0 komentar
Aku bingung sendiri dengan fenomena ini (duh, bahasanya!). jadi ceritanya, aku punya Mug dari Alfamart. udah lupa sejak zaman kapan. kalo nggak salah sejak 2010. Mug itu pernah pecah dan aku tambal pakai solatip/solasi/isolasi/plester, dan berhasil menemaniku sampai 2013 ini.

pas masih jd tempat koin

Singkatnya, kenapa sampai aku bikin postingan ini adalah karena kemarin mug itu pecah lagi. yang lebih mengherankan adalah, aku mau-maunya nambal mug itu lagi. Aku sendiri bingung. apa aku sayang sama mug itu, ya? padahal cuma aku pake buat tempat koin (sekarang tempat pensil) gara2 bocor kalau buat minum. Kalau dipikir-pikir, mug itu bukan mug istimewa. biasa aja. cuma dapet gratisan di alfamart. pun aku juga bukan penggemar alfamart. jadi, kenapa? bahkan mug Zakumi yang aku suka aca pas pecah langsung kubuang.

Entahlah, mungkin karena mug Zankumi-ku pecahnya terlalu parah, atau karena aku terlalu sayang membuang mug yang masih bisa digunakan. yah, mungkin emang cuma sayang kalau ngebuang mug. pada dasarnya aku emang penyuka mug, sih.. selama masih bisa diperbaiki, mending diperbaiki aja. toh, masih bisa dipakai walau buat tempat pensil. :)
tempat pensil penuh tambalan

Hatta: Si Bung yang Jujur dan Sederhana

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Mei 04, 2013 0 komentar
Buku Pak Hatta bersama Sunny ^0^

ini postingan pertamaku tentang resensi buku. pengennya sih, nanti bakalan ada postingan selanjutnya tentang resensi bukuku. bukan bermaksud promosi, sih.. ^^ cuma pengen berbagi pendapat aja.

nah buku yang mau kubahas adalah:
Hatta: Si Bung yang Jujur dan Sederhana
buku ini sebuah biografi singkat tenang pak Hatta. diterbitkan oleh Penerbit Ar-Ruzz media. mengisahkan perjalanan hidup pak Hatta, namun lebih fokus ke perjuangan beliau, keluarga, polemik, dan sifat-sifat khas beliau. Tebal buku ini cuma 158 halaman. jadi, lumayan untuk bacaan ringan setelah penat kuliah. apalagi banyak sifat pak Hatta yang menginspirasi.
Biografi memang terkesan 'berat', berbahasa resmi, penuh bukti2, nggak nyantai lah.. tapi tenang aja, kisah-kisah pak Hatta disampaikan oleh Adhe Firmansyah secara mengalir di buku ini. lebih seperti membaca cerita. namun tentu saja nggak kayak baca kumcer atau novel. :)

dari ketiga buku tentang pak Hatta yang kumiliki, buku ini yang paling ringan dan enak dibaca. :D. Cover buku ini juga lucu, menggunakan karikatur pak Hatta. cocok untuk yang pengen tahu tentang pak Hatta, tapi nggak suka baca biografi.

udah gitu aja, semoga bermanfaat. ^0^

selamat membaca!

Selasa, 23 April 2013

Cahaya Patah

Diposting oleh Camelia di Selasa, April 23, 2013 0 komentar
Ketika cahaya memakan
kepala-kepala patah
aku masih termenung
memikirkan bayang-bayang

Senin, 18 Maret 2013

Pinku Pinku

Diposting oleh Camelia di Senin, Maret 18, 2013 0 komentar
Mau cerita tentang hadiah dari temen2. terimakasih.. ^0^
dan entah kenapa lagi2 pink. kata mereka sebelum menyerahkannya padaku, "Ini agak sarkasme"
Hah? apaan? aku penasaran. ternyata isinya jam imut2 warna pink ini.
kenapa mereka bilang sarkasme? karena kesannya nyindir aku yang sering telat kuliah dan telat bagun pagi (abis subuh kadang zzzzz.. -_- #my bad), dan sialnya, aku kesiangan bukan karena ga ada jam atau alarm, tp emg akunya yg bebal. T.T
kalau bukan orang yang mbangunin kayaknya rada sulit buatku.
jadi, aku malah bilang, "sebenernya ku udah punya jam, sih.." (sambil nggak enak ati).
"yo nggak apa-apa, buat nambah2,"
hoh, haha..oke, baiklah.


jadinya di kamarku sekarang ada 3 jam. semuanya jam meja, dan 2 diantaranya nggak dipakein batre alias mati. :D

inilah mereka disandingkan bertiga. ^0^
dari kiri ke kanan: jam makkah, jam pinku, mung tambalan, jam aja
sip, rame2 emang lebih asik.. Makasih teman-teman atas hadiah da perhatian kalian .. :)

#dan betapa kagetnya saya ketika tau bahwa postingan tahun lalu judulnya juga Pinku Pinku :O

udah deh, gitu aja. terimakasih.. :D

Sabtu, 02 Maret 2013

KARA Bye Bye Bye Happy Days video+ lyric

Diposting oleh Camelia di Sabtu, Maret 02, 2013 0 komentar
it's unreleased yet. but, the song is too cute.. >.<
hope you like it.


LYRIC:

Nakanaide, kyō wa tabidachinohi.
Shibaraku aenakute mo, zuttozutto tomodachida yo ne.
Min'na ni deaete yokatta.
Susumu michi wa chigatte mo, yume wa akiramechadame. 
Saigo no chaimu, mada narasanaide. 
Zutto kakushite ita kono kimochi tsutaetai, shinkokyū. 
Bai bye bye namida fuite sayonara. 
Hora mirai ga te maneite iru. 
Issho ni sugoshita happī days. 
Tokei wa mō modosenaikara yukkuri mae o aruite ikou. 
Magarikunetta michi no mukō, korekara mo tsudzuku happī days. 
Arigatō mataauhimade. 
Mataauhimade. Mataauhimade. 

Omoide tsumatta arubamu, min'na no messēji 
Dore mo sabishisa nokorukedo, Nakanai yo kyō wa hajimari no hi 
Sorezore no shiawase kokorokara nega~tsu teru yo. 
Saigo no chaimu, nari owaru kara Kanawanai to omoikonde ita kataomoi wa, yosō-gai. 
Bai bye bye tewotsunaide sayonara. 
Hora mirai ga hohoende iru. 
Junpūmanpan rakkī days. 
Maiagaru sakura no shimo, yukkuri mae o aruite ikou. 
Mabushi sugiru hikari no mukō zenbu kanau mono happī days. 
Wasurenai itsu itsu made mo. 
Korekara ayumu mirai, kitto nayan dari mo surudeshou. 
Demo zettai daijōbu, ikutsu ni natte mo 
Ima datte omotta sono basho ga Start line. 
Hontōni kyō no kyōmade sasaete kurete arigatō ne. 
Tsutae kirenai yo 
My tsurū love Ashita kara atarashī hibi ganbarerukara. 
Bai bye bye namida fuite sayonara. 

Hora mirai ga te maneite iru. 
Issho ni sugoshita happī days. 
Tokei wa mō modosenaikara yukkuri mae o aruite ikou. 
Magarikunetta michi no mukō, korekara mo tsudzuku happī days. 
Arigatō ...

mataauhimade. Mataauhimade.

credit: Isnani budi-Karanesia
 

Bunga Rumput Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei